Showing posts with label PARENTING. Show all posts
Showing posts with label PARENTING. Show all posts

Charger Yang Tertukar (seri FATHERMAN bag. 4)


by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Apa jadinya dunia tanpa charger? Tentu kita akan mengalami kegalauan massal di saat HP lowbat. Kaum ababil alias ABG labil mendadak stress karena gak bisa upload foto narsis mereka di akun sosmed. Golongan buncis (bunda cantik pengen eksis) bisa histeris akibat terhalang melihat tutorial hijab gaul mode terkini di kanal yutup. Para politisi pun bisa gagal kampanye pencitraan karena tak bisa lagi menulis pesan-pesan yang bertemakan “Demi Bangsa dan Negara” kepada follower setianya. Termasuk pilunya para pedagang online yang kerap menuduh pelanggannya pengikut ISIS, karena sering banget memanggil dengan sapaan “Hey, SIS!”, kelak kan gulung tikar juga. Orderan batal gegara terputus koneksi dengan internet di saat lowbat. Satu-satunya yang bergembira ria ya tukang ojek pangkalan atau taksi non online. Pelanggan pada balik bak CLBK pakai jasa mereka karena HP dan gadget sudah tak ada guna.

Ya, ini era cyber. Dimana HP dan gadget canggih bersliweran dalam beragam merk sudah jadi kebutuhan pokok. Kalau nasi mengeyangkan perut, maka HP mengenyangkan batin khususnya bagi anak muda di zaman ini. Dan demi menjaga vitalitas nyawa benda ini, maka charger amat dibutuhkan sebagai nyawa cadangan. Tak ada charger maka siap-siap mengadakan ‘tahlilan’ atas wafatnya HP tersayang. Charger memberi energi agar HP kesayangan kita bisa ON terus setiap hari.

Namun bahasan kita kali ini sebenarnya bukan tentang charger dan perangkat elektronik lainnya. Sebelum saya disangka sebagai engkoh engkoh di pasar roxy, perlu saya tegaskan bahwa uraian kali ini tentang peran ayah sang Fatherman sebagai charger bagi anak. Jika jiwa anak ibarat HP atau gadget, maka AYAH semestinya menjadi charger yang memberikan energi kepada anak dalam menjalani hari yang semakin sulit.

Sayangnya, banyak anak yang di saat lemah batin dan jiwanya, justru pihak lain yang menjadi charger alias motivator bagi mereka. Tengoklah anak-anak muda masa kini yang lebih termotivasi dengan pesan Om Mario Teguh dibandingkan ayahnya sendiri. Di saat mereka malas belajar yang terngiang justru pesan Om Mario “Adikku-adikku, silahkan kau nikmati bermalas-malasan hari ini. Kelak kau kan tersengal-sengal sesak di saat tua menyesali kemalasanmu di hari ini”. Ajaib. Banyak anak muda yang langsung bangkit dari kemalasannya dan langsung buka buku tuk belajar meski kemudian wajah tersungkur mencium sampul buku saking ngantuknya. Yaah setidaknya kalimat Om Mario tersebut bisa menjadi setrum darurat yang memberi energi untuk sekedar miscall kepada jiwa yang terkulai lemah (apa sih?).

Padahal apa yang disampaikan oleh Om Mario sudah sering kali diwasiatkan sang ayah dengan kalimat yang meski beda tapi maksudnya sama : “Kalau kamu malas sekolah, gak ayah kasih uang jajan. Ingat itu!”. Ternyata si anak gak merasakan efek apa-apa. Tetap asyik memeluk guling kesayangannya sambil bermimpi ketemu Nikita Mirzani. Mager di pagi hari.
Inilah kondisi yang disebut “charger yang tertukar”. Dimana anak lebih termotivasi dengan petuah orang lain dibandingkan ayah sendiri. Mereka kadung menganggap para motivator semisal Mario Teguh sebagai sosok yang sempurna. Nyaris tanpa cela. Padahal sehebat-hebatnya Om Mario teguh, ia tak mampu memotivasi rambutnya sendiri untuk tumbuh. Ups... maaf Om Mario. Plis jangan marah ya walaupun bener. Sambil membayangkan ucapan “Anda Superrr sekali!” disertai jeweran. Tapi Om Mario dan motivator lain yang semisal tidaklah salah. Justru mereka sejatinya mengajarkan bagaimana agar ayah bisa jadi motivator handal khususnya bagi sang anak di saat mereka membutuhkan. Menjadi charger yang orisinil, bukan KW, bagi jiwa anak di saat lowbat.

Karena itu, sang Fatherman, ganti segera kostummu. Mulai kenakan topi motivator sebagai kostum yang melekat dalam lakon Fatherman kali ini. Topi motivator ini sebagai pengingat bahwa ayah adalah sumber setrum utama bagi anak. Dimana jika anak malas tak bergairah bisa jadi karena ayah yang belum dianggap jadi motivator bagi sang buah hati. Bagaimana caranya? Apakah ayah harus belajar menyusun kalimat yang tidak biasa dengan irama yang audiogenic? Sambil suara direndahkan seperti suara operator telpon atau dubber iklan? Tentu tidak. Yang ayah butuhkan selaku Fatherman agar bisa jadi motivator utama bagi anak hanya dua : kredibilitas dan momentum.

Kredibilitas adalah dimana sosok ayah memang layak jadi contoh dan teladan. Diakui dan dibanggakan oleh sang anak. Jangan sampai ayah nyuruh anak rajin belajar padahal ayah sendiri jarang baca buku. Sekalinya baca buku, paling buku tabungan disertai ratapan, “Kok saldonya cuma sepuluh ribu ya?”. Anak menganggap nasehat ayah yang tidak kredibel cuma bualan. Gak nyetrum, karena salah charger. Atau mungkin sesuai chargernya tapi KW. Malah merusak. Bandingkan jika ayah adalah sosok yang membanggakan dan istimewa. Segudang prestasi diraih. Memiliki pribadi yang antusias dan penuh semangat. Cukup ayah mendehem saja disertai bahasa tubuh yang ok, anak sudah memiliki gairah tanpa perlu diberi ceramah. Ingatlah wahai ayah, sang Fatherman harus jadi contoh. Inilah cara mudah meraih kredibilitas dan kewibawaan meski ayah tak mampu menyusun kalimat seindah Mario teguh.

Modal yang kedua adalah momentum. Yakni kemampuan ayah melihat golden moment untuk memberi setruman energi bagi anak. Dimana anak amat membutuhkan kehadiran ayah di situasi ini. Contohlah Rasul. Suatu hari beliau melewati Bani Aslam yang sedang melakukan lomba memanah. Pada saat Rasul melihat kejadian tersebut, Rasul mampir sejenak seraya memberi motivasi anak-anak yang sedang lomba dengan kalimat “Teruslah memanah keturunan Ismail. Sesungguhnya kakek moyangmu seorang pemanah!”. Dan sungguh luar biasa. Motivasi singkat Rasul saat itu mampu membuat anak-anak merasakan energi lomba berkali-kali lipat. Hingga dikenal dalam sejarah, Bani Aslam menjadi pemasok pemanah unggul di zamannya.

Perhatikan bagaimana Rasul memanfaatkan momentum tuk menjelma menjadi motivator yang mumpuni bagi anak-anak. Yaitu di saat anak unjuk prestasi atau sedang kompetisi. Inilah saat dimana kehadiran ayah sebagai Fatherman amat dinantikan. Di saat mereka mentas atau beraksi, bukan tepuk tangan guru atau teman yang diharapkan. Kehadiran ayah yang dicintai lah yang mereka rindukan. Jika ayah tak ada, prestasi yang diraih tak berarti apa-apa. Standing applause dari para khalayak tak mampu menggembirakan hatinya. Sebab ayah tak nampak di hadapannya. Inilah penyebab lambat laun mereka kehilangan gairah.

Selain itu, lihat kalimat yang meluncur dari lisan Rasul dalam memberi motivasi. Singkat dan menohok. Tak perlu pakai kalimat yang meliuk-liuk. Cukup dengan kalimat dorongan seraya menyebutkan kebesaran atau kemuliaan nasab. Entah kakek atau ayah ataupun buyut. Yang sesuai dengan bidangnya anak. Ingat! Yang disebutkan tentu prestasi baiknya. Bukan yang buruk. Jangan sampai misalnya, kakeknya yang dikenal penjahat malah dibanggain, “Semangat nak larinya! Kakekmu dulu copet ternama di kampung kita. Larinya kuat!” Ini menjerumuskan anak. Bahayyaa!

Dengan kata lain, agar anak menjadikan ayah sebagai motivator utamanya, selalu jaga kredibilitas nasab di hadapan anak dengan teladan kebaikan yang patut ditiru. Dan bukan hanya ayah, namun juga kakek hingga buyut dan seterusnya dengan cerita-cerita penuh makna dan hikmah. Kemuliaan nasab bisa jadi pemicu dan pemberi energi yang sesuai bagi jiwa anak. Dan berikutnya, tak lupa untuk selalu hadir di moment istimewa anak saat ia mentas dan unjuk prestasi. Ini adalah undangan yang tak bisa ditolak. Sama seperti ketika kita diundang hadir untuk dimintai keterangan di gedung KPK. Wajib hadir sesibuk apapun, itu intinya.

Kemampuan ayah selaku Fatherman sebagai motivator utama bagi anak ibarat HP dengan charger yang tak bisa dipisahkan. Satu paket saat awal membelinya. Anak yang jiwanya terkulai lemah sejatinya sedang lowbat dan butuh dicharge. Segera ambil kesempatan itu, agar tak ada charger lain yang menelikung. Dimana merk lain memang banyak yang bagus dan layak dicoba, namun yang orisinil tetaplah ayahnya, sang Fatherman. Lagipula, untuk anak kok coba-coba? (bersambung)


The Right Man At The Right Time (Seri fatherman bag. 3)


Pernah lihat adegan ini?

“Seorang wanita lari dengan nafas tersengal-sengal dikejar seorang monster atau makhluk jahat. Di depannya hanya ada jurang. Ia tak bisa lari kemana-mana. Pilihannya hanya dua. Mati jatuh ke jurang atau diterkam monster buas. Begitu sang monster mendekat dan siap memangsa korbannya, muncullah pahlawan bertopeng. Dengan gagah berani ia taklukkan sang monster hingga lumat dan lenyap dari muka bumi. Si wanita meleleh hatinya seraya membatin ‘So sweet. You are my hero’.


Demikianlah kisah mainstream kepahlawanan dalam hampir setiap film, komik ataupun novel. Polanya selalu sama. Pahlawan datang di detik-detik terakhir yang menegangkan. Ketika adrenalin bergejolak, jantung berdetak kencang, air mata terkuras karena saking pedihnya hati dibarengi dengan air kencing yang tanpa sadar keluar saking mencekamnya suasana, muncullah sang pahlawan. Yes. Pahlawan selalu punya rumus : datang di saat yang tepat. Beda dengan mahasiswa jenius yang datang kecepetan, bahkan sebelum pintu kelas dibuka. Atau polisi dalam film-film Indonesia jaman dulu yang selalu datang terlambat sekedar untuk memasang garis kuning di TKP sambil membereskan puing-puing di lokasi kejadian diikuti credit title tanda berakhirnya film.


Tepat waktu, itulah ciri pahlawan. Tidak terlalu cepat seperti petugas pendaftaran atau terlambat seperti haid alias datang bulan. Dan itu pulalah yang selayaknya dimiliki pahlawan bagi anak yang bernama Fatherman. Tahu kapan harus hadir di sisi anak. Tentu tepat waktu yang dimaksudkan disini bukan mengabaikan peran ayah memberi banyak waktu bagi anak. Namun bagaimana melatih kemampuan ayah sebagai Fatherman membaca situasi dan moment agar WAJIB hadir di saat anak membutuhkan. Hasilnya akan memberikan efek terpesonanya batin anak. The right man at the right time. Jangan sampai di situasi genting dan kritis malah orang lain yang hadir. Jika ini sampai terjadi, ayah akan bernasib seperti para jones alias jomblo ngenes yang ditikung teman sendiri. Awalnya dia yang deketin eh nikahnya sama yang lain. Duh sakitnya tuh di sana sini. Perih.


Agar kejadian jones tidak dialami oleh ayah, maka ada dua waktu yang ayah mutlak harus hadir sebagai Fatherman.


Pertama, saat anak sedang sedih.

Inilah waktu-waktu yang kritis. Sebab, saat anak lagi sedih ia butuh sandaran jiwa. Siapapun yang hadir di sisinya saat itu, ia anggap super hero baginya. Disinilah kejelian bandar narkoba, predator seksual dan musuh-musuh pengasuhan dalam mengintai mangsanya. Mereka mengincar anak-anak yang lagi sedih. Bisa karena putus cinta, gagal berprestasi, merasa diabaikan oleh kawan, dan segala masalah anak lainnya. Mereka menyamar sebagai sosok pahlawan padahal sejatinya adalah monster jahat yang siap menerkam. Anak pun terpikat akan sosoknya. Hingga akhirnya dibujuk ke dalam perangkap jahatnya.

Nah, sang fatherman tidak boleh terlambat. Hadirlah di saat situasi tersebut. Sesegera mungkin. Jika saat tersebut sedang ada tugas di kantor, minimal hubungi anak via telpon. Luangkan waktu untuk mendengarkan masalah anak. Jika perlu, berjanjilah untuk pulang lebih cepat. Semakin ayah berani luangkan waktu dan hadir secara fisik dalam situasi ini semakin anak terpikat hatinya. Ayah benar-benar sudah menjadi super hero bagi ananda. This is Fatherman!


Inilah yang diajarkan oleh baginda Nabi. Dikisahkan oleh Anas bin Malik bahwa ia memiliki sepupu yang dijuluki Abu Umair. Sepupunya ini punya hewan kesayangan, seekor burung pipit yang diberi nama Nughair. Suatu hari Abu Umair berduka. Nughair yang disayanginya telah mati. Ia amat kehilangan. Menangis sesenggukan. Kabar matinya hewan piaraan ini sampai kepada Rasulullah. Beliau pun segera mengunjungi Abu Umair dan menghibur hatinya yang sedang merasakan kehilangan. Disinilah hebatnya rasul. Tak remehkan urusan yang dianggap ‘sepele’. Sebagian besar ayah mungkin akan bertindak beda. Saat anak kehilangan burung pipit malah dikomentari “Halah, baru burung pipit mati aja kamu udah sedih. Ya sudah, nanti papa ganti sama burung rajawali. Kalau perlu burung garuda yang ada logo pancasila”. Huft... Padahal bukan masalah burung yang mati, namun kehilangan sesuatu yang dicintai amatlah mengoyak hati. Sang fatherman hadir untuk memahami situasi ini.


Kedua, saat anak sakit.

Sakitnya fisik mempengaruhi psikis. Di saat inilah anak butuh diperhatikan. Bukan sekedar obat ataupun makanan. Lebih dari itu, ia butuh perhatian dan kasih sayang. Hadir di sisinya, memeluknya, mengusap kepalanya, menyuapinya makan atau mendoakannya amatlah menyentuh batinnya. Obat akan menyembuhkan dan menguatkan fisiknya, namun perhatian akan menyembuhkan luka batinnya dan menguatkan cinta kepada ayahnya.

Di saat seperti inilah, sang fatherman bisa manfaatkan momen untuk bercerita, menasehati dan mengajarkan hikmah kepada anak. Asal jangan banyak-banyak. Ingat! Anak ini bukan mahasiswa yang lagi ambil kuliah 6 SKS. Jadi nasehati seperlunya saja. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah kepada seorang anak yang menjadi pembantunya. Anak ini beragama yahudi. Di saat ia sakit, Rasul pun mengunjunginya. Hati anak pun tersentuh akan perhatian Rasul. Di saat itulah Rasul pun mengajaknya masuk Islam, ia pun mau sebab hatinya telah terpikat.


Maka, menasehati anak hanya bisa dilakukan oleh ayah yang telah mengikat hati anak lewat momen yang tepat. Hadir di saat sakit itu contohnya. Meleset sedikit, nasehat ayah tak lagi didengarkan malah dikacangin. Kalau kacang sih gurih, tapi dikacangin? Perih...


Agar kedua moment itu bisa memberikan efek yang dahsyat dalam jiwa anak, ayah selaku Fatherman jangan sampai salah kostum. Salah kostum bisa berakibat fatal. Lihat aja Superman. Tanda “S”di dada bidangnya itu kostum khas. Memberi makna tubuhnya yang kekar dan langsing. Seumpama diganti dengan tanda “XL” maka itu bermakna dia sudah overweight. Harus banyak lari pagi. Tidak ada yang mau ditolong karena ragu, sebab Super Heronya sendiri butuh pertolongan konsultan nutrisi, khususnya untuk menurunkan berat tubuh sendiri.


Kostum yang dimaksud bagi Fatherman adalah topi peran yang sudah kita ulas di bagian awal tulisan ini. Dan topi yang tepat di kedua situasi tersebut adalah Topi Konselor. Ayah berperan sebagai konselor yang memahami perasaan anak. Siap mendengarkan keluh kesah anak seraya menunggu moment yang pas untuk memberikan advice. Endurance atau ketahanan Ayah dalam mendengarkan curhat anak dalam situasi ini, amat menentukan. Kuping emang harus siap panas karena mendengarkan curhat yang berulang. Tapi inilah super hero idaman. Sedikit bicara dan banyak diam namun memberikan kesan. Bukan sembarang diam. Namun diam yang penuh respons lewat isyarat tubuh yang menunjukkan kepedulian. Inilah yang membuat ayah makin tampak cool di hadapan anak.


Kehadiran ayah dengan kostum yang tepat di situasi kritis tersebut adalah prasyarat menjadi sosok ayah yang memorable. Hingga terpahat di hati anak sebuah untaian kalimat “ayah memang tidak selalu hadir setiap saat disisiku, namun ayah selalu hadir di saat aku membutuhkan. Itulah ayahku, sang fatherman.” So sweet...tissue mana tissue? (bersambung)


by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Kajian Islam Whatsapp : IBU, KEMBALILAH!!

IBU, KEMBALILAH!!
by : bendri jaisyurrahman (twitter :
@ajobendri)

1. Ibu, kembalilah ke rumah. Anakmu terbidik oleh peluru zaman. Fisiknya bugar namun jiwanya terkapar. Kembalilah!

2. Apa yg kau cari dalam hidup duhai ibu? Jika surga adalah tujuan, maka mendidik anak
sungguh2 adalah pintu terdekat yg antarkan kau menuju surga idaman

3. Jika pun ibu harus bekerja maka itu adalah darurat. Segeralah cari jalan untuk bisa
kembali ke rumah. Sebab, anakmu makin tumbuh dan tak bisa ditunda

4. Memang tidak bijak meminta ibu berhenti bekerja. Namun lebih tidak bijak lagi membiarkan anak-anak terlantar tanpa kasih
sayang

5. Tundalah dulu obsesi karirmu. Setidaknya hingga anak telah tumbuh dewasa. Setelahnya,
kau bisa puas menuai karya

6. Sejatinya, ibu itu profesi utama. Sisanya, sambilan aja

7. Jika mengurus anak, dengan cara sambilan. Maka akan muncul generasi sambel-sambelan
(saudara kandung cabe-cabean)

8. Bagi seorang suami, jangan tuntut istrimu bekerja. Sebab, kau telah renggut hak anak yg
lebih butuhkan ibunya dibandingkan TV atau I-
Phone S5.

9. Jadilah lelaki pemberani. Berani katakan kepada istri : 'tinggallah kamu dirumah. Biar aku saja yg penuhi kebutuhan kita'

10. Ingatlah...Anak itu titipan dari Allah. Maka jangan kau titipkan lagi kepada orang lain.
Emangnya Allah salah nitip? Wal'iyaadzu
billaah...

11. Apa yg ibu korbankan di saat anak masih belia, akan menjadi kado indah di saat anak
telah dewasa.

12. Sekiranya ibu ingin bekerja, maka itu hanya untuk aktualisasi diri semata. Bagian dari
dinamisasi jiwa. Bukan untuk jadi profesi utama

13. Pengasuhan anak ibarat utang piutang. Apa yg tidak diberikan ortu di masa kecil, maka
anak akan menagihnya di usia remaja dengan perilaku yg menyebalkan

14. Jika anak sulit mendengar kata bunda, itu mungkin tersebab saat kanak ia diabaikan saat
bicara. Ibu harus buru-buru ke tempat kerja

15. Saat remaja anak tak betah di rumah. Sebab ibu juga sering pergi keluar saat ia masih bocah. Jarang ada di rumah

16. Maka, segera cari jalan untuk pulang. Jadilah ibu yg seutuhnya. Selalu hadir di saat anak membutuhkan. Ibu, menjadi pahlawan bagi generasi masa depan..

Berhentilah, Jelang akhir zaman perkuat generasi hari ini dengan sentuhan mu wahai para ibu dan ayah

Kajian Islam Whatsapp : Parenting ODOJ

ISLAMIC NEWS CORNER
Rabu, 8 April 2015

Tema : Islamic Parenting

Edisi INC ke-9 (Edisi ke-4 dari Seri Islamic Parenting)

👪💝Kebingungan Kedua Orang Tua & Pendidikan Anak Usia 0-3 Tahun💝👪

👫Karena tugas mendidik anak merupakan tanggung jawab yang dibebankan kepada kedua orang tua dan menjadi amanah yang dipikulkan diatas pundak para pendidik, kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban dari mereka. Allah akan menanyai mereka tentang apa yang telah mereka pimpin. Tiap-tiap orang diantara kita adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

🎓Wahai para pendidik, bagaimanakah anda dapat memastikan bahwa anda berada di jalan yang benar dalam mendidik anak-anak anda, secara ilmiah, akhlak, sosial, psikologi, jasmani, keilmuan, bahkan secara seksiologi?

🌷Bagaimana anda tahu bahwa anda sedang menerapkan sistem pendidikan yang sesuai dengan metode ilmiah, tanpa memerlukan eksperimen untuk membuktikan kelayakannya dan tanpa memerlukan sedikit atau banyak pengalaman dalam penerapannya? Terlebih lagi, kegagalan dalam urusan seperti ini sangat sulit untuk dihindari, kecuali bila Allah menghendaki sesuatu yang lain. Sesungguhnya penolong kita adalah Allah yang telah menurunkan Al-Qur'an. Dialah yang melindungi orang-orang saleh.

📝Pendidikan Anak Usia 0-3 tahun dapat dimulai dari:
😊💦Berdoa Untuk Anak Saat Masih Dalam Sulbi Ayahnya
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Seandainya salah seorang diantara kalian sebelum menggauli istrinya berdoa:
'Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau anugerahkan kepada kami,'' lalu dari keduanya lahir anak, setan tidak akan dapat mengganggunya selamanya."
Muttafaqun 'Alaih

🎁Dalam hadits ini terkandung anjuran bahwa sebaiknya permulaan yang kita lakukan dalam hal ini bersifat Rabbani, bukan syaithani. Apabila disebutkan nama Allah pada permulaan senggama, berarti hubungan yang dilakukan oleh suami-istri tersebut berlandaskan ketaqwaan kepada Allah SWT dan dengan izin Allah, anaknya nanti tidak akan diganggu setan.


Reposted by :
Divisi Tsaqofah Islamiyah PSDM ODOJ

INC/09/08/04/2015/divisi TSI-PSDM ODOJ

Kajian Islam Whatsapp : Ibu Untuk Anak Kita

Ibu untuk Anak Kita
Mohammad Fauzil Adhim


Kunci untuk melahirkan anak-anak yang tajam pikirannya, jernih hatinya dan kuat jiwanya adalah mencintai ibunya sepenuh hati. Kita berikan hati kita dan waktu kita untuk menyemai cinta di hatinya, sehingga menguatkan semangatnya mendidik anak-anak yang dilahirkannya dengan pendidikan yang terbaik. Keinginan besar saja kadang tak cukup untuk membuat seorang ibu senantiasa memberikan senyumnya kepada anak. Perlu penopang berupa cinta yang tulus dari suaminya agar keinginan besar yang mulia itu tetap kokoh.

Uang yang berlimpah saja tidak cukup. Saat kita serba kekurangan, uang memang bisa memberi kebahagiaan yang sangat besar. Lebih-lebih ketika perut dililit rasa lapar, sementara tangis anak-anak yang menginginkan mainan tak bisa kita redakan karena tak ada uang. Tetapi ketika Allah telah memberi kita kecukupan rezeki, permata yang terbaik pun tidak cukup untuk menunjukkan cinta kita kepada istri. Ada yang lebih berharga daripada ruby atau berlian yang paling jernih. Ada yang lebih membahagiakan daripada sutera yang paling halus atau jam tangan paling elegan.

Apa itu? Waktu kita dan perhatian kita.

Kita punya waktu setiap hari. Tidak ada perbedaan sedikit pun antara waktu kita dan waktu yang dimiliki orang-orang sibuk di seluruh dunia. Kita juga mempunyai waktu luang yang tidak sedikit. Hanya saja, kerapkali kita tidak menyadari waktu luang itu. Di pesawat misalnya, kita punya waktu luang yang sangat banyak untuk membaca. Tetapi karena tidak kita sadari –dan akhirnya tidak kita manfaatkan dengan baik—beberapa tugas yang seharusnya bisa kita selesaikan di perjalanan, akhirnya mengambil hak istri dan anak-anak kita. Waktu yang seharusnya menjadi saat-saat yang membahagiakan mereka, kita ambil untuk urusan yang sebenarnya bisa kita selesaikan di luar rumah.

Bagaimana kita menghabiskan waktu bersama istri di rumah juga sangat berpengaruh terhadap perasaannya. Satu jam bersama istri karena kita tidak punya kesibukan di luar, berbeda sekali dengan satu jam yang memang secara khusus kita sisihkan. Bukan kita sisakan. Menyisihkan waktu satu jam khusus untuknya akan membuat ia merasa lebih kita cintai. Ia merasa istimewa. Tetapi dua jam waktu sisa, akan lain artinya.

Sayangnya, istri kita seringkali hanya mendapatkan waktu-waktu sisa dan perhatian yang juga hanya sisa-sisa. Atau, kadang justru bukan perhatian baginya, melainkan kitalah yang meminta perhatian darinya untuk menghapus penat dan lelah kita. Kita mendekat kepadanya hanya karena kita berhasrat untuk menuntaskan gejolak syahwat yang sudah begitu kuat. Setelah itu ia harus menahan dongkol mendengar suara kita mendengkur.

Astaghfirullahal ‘adziim....

Lalu atas dasar apa kita merasa telah menjadi suami yang baik baginya? Atas dasar apa kita merasa menjadi bapak yang baik, sedangkan kunci pembuka yang pertama, yakni cinta yang tulus bagi ibu anak-anak kita tidak ada dalam diri kita.

Sesungguhnya, kita punya waktu yang banyak setiap hari. Yang tidak kita punya adalah kesediaan untuk meluangkan waktu secara sengaja bagi istri kita.

Waktu untuk apa? Waktu untuk bersamanya. Bukankah kita menikah karena ingin hidup bersama mewujudkan cita-cita besar yang sama? Bukankah kita menikah karena menginginkan kebersamaan, sehingga dengan itu kita bekerja sama membangun rumah-tangga yang di dalamnya penuh cinta dan barakah? Bukan kita menikah karena ada kebaikan yang hendak kita wujudkan melalui kerja-sama yang indah?

Tetapi...

Begitu menikah, kita sering lupa. Alih-alih kerja-sama, kita justru sama-sama kerja dan sama-sama menomor satukan urusan pekerjaan di atas segala-galanya. Kita lupa menempat¬kan urusan pada tempatnya yang pas, sehingga untuk bertemu dan berbincang santai dengan istri pun harus menunggu saat sakit datang. Itu pun terkadang tak tersedia banyak waktu, sebab bertumpuk urusan sudah menunggu di benak kita.

Banyak suami-istri yang tidak punya waktu untuk ngobrol ringan berdua, tetapi sanggup menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV. Seakan-akan mereka sedang menikmati kebersamaan, padahal yang kerapkali terjadi sesungguhnya .....

(Dapetnya emang segini, padahal bagus ya.. -admin-)



Jangan ada keributan gara-Gara Kata “Jangan”


by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

  1. Beberapa hari ini banyak yg tanya saya (lebih tepatnya ajak diskusi) seputar kata “jangan” dalam ilmu parenting dan Alquran
  2. Sebagian ada yg mengatakan kata “jangan” sebaiknya dihindarkan diganti kata anjuran. Ini ajaran parenting
  3. Sebagian yg lain justru mempertentangkan dgn berdalih bahwa alquran justru banyak memuat kata jangan. Apakah quran salah?
  4. Ujung-ujungnya saling melabel. Seolah-olah ilmu parenting yg menolak kata “jangan” dianggap tidak islami, pro yahudi, dsb.
  5. Nah, ini yg saya khawatirkan. Pertentangan yg berujung kepada labeling. Jangan-jangan ini disengaja. Eh kok pake kata “jangan”?
  6. Bukannya sok bijak. Sebab orang sok bijak sok bayar pajak hehe.. Tapi bersikap ekstrim meskipun baik tidak sesuai sunnah nabi.
  7. Hakikatnya, islam ini agama pertengahan (ad diinul wasath). Maka tindakan menyalahkan ilmu yg bersumber dari barat tanpa dicari akarnya juga tak tepat
  8. Seolah-olah kalau parenting itu dari barat jelas-jelas salah. Langsung tertolak. Padahal kita sering makan dari barat semisal rendang dari sumatera barat #eh :D
  9. Ilmu parenting pada dasarnya bagian dari ilmu “keduniawian” dimana rasul mengatakan “kalian lebih tau urusan dunia kalian”. Artinya silahkan inovasi
  10. Tentu bukan berarti islam tak punya konsep dasar. Sama seperti ilmu kedokteran, parenting juga punya dasar ilmunya
  11. Tapi Islam tak menolak inovasi dalam bidang kedokteran sebab berprinsip “hukum asal muamalah adalah boleh kecuali ada dalil yg melarang”
  12. Maka, inovasi dalam kedokteran semisal operasi jantung, kemotherapi, dan cesar itu boleh kecuali yg jelas ada larangannya
  13. Sama juga dgn ilmu parenting. Muncul banyak inovasi yg tak semuanya kita tolak kecuali dgn dalil yg tegas.
  14. Mengenai kata “jangan” itu sendiri tak perlu kita cari dalih. Hal ini memang ada dalam alquran. So what?
  15. Tentu sesuatu yg berada dlm alquran tak boleh diragukan. Ini wilayah iman (QS 2:2)
  16. Namun, sesuatu yg ada dalam alquran tentu harus dilihat prakteknya dalam keseharian nabi. Sebab beliau sejatinya ‘penerjemah’ terbaik maksud dari alquran
  17. Jika hanya berdasarkan quran tanpa lihat praktek nabi, hati-hati bisa terkecoh. Bisa-bisa malah aneh. Sholat, contohnya. Dalam quran perintahnya hanya rukuk dan sujud (qs 48 : 29). Jika tanpa melihat rasul, maka kita akan anggap sesat orang yg iktidal atau duduk tahiyat
  18. Begitu juga penggunaan kata “jangan” dalam quran. Kita harus dudukkan dalam konteks ilmu parenting yg dicontohkan Rasul
  19. Itu artinya, mari kita tengok sejarah bagaimana sikap rasul kepada anak-anak? Dan kita akan dapati beberapa perlakuan yg “beda”
  20. Sesuatu yg dilarang kepada orang dewasa ternyata dimaklumi bahkan dibolehkan kepada anak-anak
  21. JIka orang dewasa dilarang main patung atau boneka, ternyata anak-anak boleh. Aisyah contohnya
  22. Jika orang dewasa dilarang ngobrol atau bercanda dalam sholat. Maka khusus anak-anak semisal husein, main di punggung rasul bahkan dibiarkan
  23. Bayangkan, kalau yg main di punggung itu Umar. Mungkin sudah rasul marahin
  24. Bahkan ada seorang anak yg pipis di baju rasul, dibiarkan. Tak dilarang. Kalau itu sahabat? Mungkin udah dikeroyok sama yg lain
  25. Karena itu, melihat penggunaan kata “jangan” dalam alquran tak boleh sembarangan. Ada patokan dan standarnya
  26. Untuk anak kecil yg belum baligh tentu beda perlakuannya dengan orang dewasa
  27. Bahkan sesama orang dewasa saja masih ada perlakuan yg beda. Contohnya orang badui yg pipis di masjid nabawi dibiarkan, tak dilarang
  28. Kenapa? Karena orang badui itu tak tahu alias bodoh. Inilah hebatnya rasul. Bersikap berdasarkan konteks kejadian
  29. Jadi ayat tak dikeluarkan serampangan. Indah betul Islam ini jadinya
  30. Karena itu, sebagai panduan penggunaan kata jangan ada beberapa pembahasan yg lumayan panjang. Salah satu yg mau saya bahas disini yakni konteks usia
  31. Minimal ada 3 konteks usia penggunaan kata jangan sesuai sikap nabi : utk anak yg belum berakal, untuk anak yg sudah berakal dan utk remaja atau dewasa
  32. Untuk remaja atau dewasa rasul tak ragu untuk memberikan kata jangan jika memang membahayakan agama orang ini. Biasanya terkait akidah dan akhlak
  33. Sementara utk anak, rasul sikapnya beda. Rasul bedakan yg sudah berakal mana yg belum.
  34. Caranya sesuai petunjuk rasul dlm urusan perintah sholat yaitu “jika sudah bisa bedakan kanan dan kiri”. Itu artinya sudah diajak berpikir
  35. Nah, untuk anak tipe ini (bisa bedakan kanan dan kiri) kata larangan atau “jangan” dibolehkan.
  36. Tapi lebih elok jika ditambah solusinya agar mereka tau apa yg harus dilakukan. Ingat mereka minim pengalaman
  37. Hal ini dialami oleh Rafi’ bin Amr Al Ghifari yg punya hobi melempar kurma. Rasul melarangnya namun kasih solusi.
  38. Solusinya adalah kalau mau makan kurma, yg jatuh di tanah, tak perlu dilempar. Indah kan?
  39. Sementara untuk anak yg belum bisa berpikir, rasul tak melarang. Lebih banyak memberi tahu sikap yg tepat. Bahkan cenderung membiarkan
  40. Yang dibiarkan rasul juga biasanya terkait dgn hal-hal yg berkaitan dgn eksplorasi skill.
  41. Rasul bahkan memotivasi anak yg lagi main panah di mesjid dgn ucapan “teruslah memanah. Sesungguhnya kakek moyangmu ismail seorang pemanah”
  42. Kalau anak sekarang main panah di masjid? Udah jadi rempeyek dihujat jamaah hehe
  43. Makanya, yg kedua yg harus dipahami selain konteks objeknya juga konteks apa yg dilarang
  44. Jika untuk eksplorasi skill hindari kata jangan. Agar anak termotivasi kembangkan potensi. Tapi untuk eksplorasi spiritual dan emosi silahkan pakai “jangan” dgn penjelasan
  45. Contoh penjelasan dlm quran “jangan ikuti langkah syetan, syetan itu musuh nyata bagimu”
  46. Lebih elok jika larangan ada penjelasan. Tentu ini pas bagi anak yg sudah berpikir.
  47. Di masa rasul ada seorang anak yg makan berlari-lari. Rasul ucap : 'Nak, sebutlah nama Allah. Pakai tangan kananmu dan makan yg paling dekat denganmu'
  48. Rasul tak keluarkan kata 'jangan' karena anak ini butuh tindakan konkret apa yg harus dilakukan saat itu
  49. Kesimpulannya, gak perlu bersikap ekstrim. Parenting meski dari barat bisa jadi adalah hikmah kaum muslimin yg tercecer
  50. So, buanglah sampah pada tempatnya ups..maksudnya pakailah kata jangan pada konteksnya.
  51. Sekarang, silahkan cicipi jangan nya (alias sayur) :D  

Ayah Bunda Jangan Bohongi Anakmu

'Amir bin Rabi'ah bercerita: saat aku masih kecil Nabi صلعم datang ke rumah kami, lalu aku ke luar dan bermain. Saat itu Ibu memanggil: "Wahai Abdullah, sini ... Ibu mau kasih sesuatu untukmu."

Maka Nabi صلعم bersabda: "Apa yg akan kau berikan?" Ibu menjawab: "Kurma."
Nabi صلعم bersabda: "Bu .., kalau seandainya ibu tidak laksanakan itu, maka ibu tercatat sbagai wanita pendusta."
 (Hr. Ahmad no. 15702,  Abu Daud no. 4991, Syaikh Syuaib al Arnauth: hasan lighairih)

Hari ini banyak idola, tp minim keteladanan. Jika anak-anak tidak dapatkan di luar, jangan sampai juga tidak menemukannya di rumah; ibu dan bapaknya. Keteladanan lebih tajam pengaruhnya dibanding perkataan.

Maka, jangan harapkan anak-anak menjadi jujur jika jujur juga sulit bagi kedua orang tuanya, gurunya, pejabat, dan siapa pun yg dijadikan model oleh anak-anak.

Jika anak suka bolos sekolah, katanya belajar brrsama padahal ke mall, nilep SPP, ...  lihat dulu kita sbgai orang tuanya, jangan-jangan kita mendidik mereka jg dengan penuh kedustaan.

Anak nangis minta dibelikan mainan, ibunya bilang nanti saja kalau bapak sudah  pulang, padahal tujuan si ibu menunda agar si anak lupa, kalau pun bapaknya pulang tetap dia tidak membelikannya, pdahal sudah berjanji.

Anak tersandung jatuh, ibunya bilang: cup sayang, kodoknya udah lari ...! Padahal tidak ada kodok, dan tidak ada kodok yang lari, kodok itu lompat.

Anak nangis keras, ditakut2i, "Hus jangan nangis nanti ditangkep Pak Polisi!! ..Duh bu, emang pasal apa kesalahan anak nangis?

Tahukah ...., jangan-jangan maraknya korupsi juga berawal dr kebiasaan dusta orang tua yg ditiru anaknya?

-Abu Hudzaifi-

kajian whatsapp - parenting

Mengajarkan TANGGUNGJAWAB dengan Kegiatan Bermain

Narasumber : Perwitasari, Psi
(Manager Elly Risman Parenting Institute, Trainer dan Psikolog Senior Yayasan Kita dan Buah Hati)
Emang dasar masanya, punya anak kecil bikin rumah jadi superberantakan.
Biarin aja lah, bebaskan anak mengeksplor apa yang sedang menjadi minatnya. Jangan kekang kreatifitasnya. Rumah jadi kayak kapal pecah udah resiko.. urut dadaaaa ajaaa.. sabaaaar..
Benarkah demikian?
Saat bermain, selain untuk mengeksplor kreatifitasnya, anak kita juga punya hak dan kesempatan untuk diajarkan mengenai bertanggungjawab lho..

Sejak usia 2 tahun, anak kita sudah bisa diajak bicara bahwa setelah bermain ia perlu membereskan lagi mainannya dan menyimpan di tempat semula. Tentu dengan cara yang menyenangkan.

Untuk membantu memudahkan anak kita belajar bertanggung jawab melalui kegiatan bermain, berikut tips-tipsnya :

1. Siapkan sarana yang memudahkan anak sesuai usia.
Mis. Ada sapu kecil untuk anak kita bersih-bersih, box mainan yang kecil (mainan perlu dikelompokkan dan diletakkan dalam beberapa box, sehingga anak tidak menumpahkan semua mainannya yang kemudian bisa menyulitkan saat ia merapikan)

2. Libatkan anak pada aktivitas "beberes" sehari-hari dengan suasana riang.
Mis sambil bernyanyi : "bersih-bersih ayo bersih-bersih, yang bersih-bersih dicium bunda. rapi-rapi ayo rapi-rapi. Yang rapi-rapi di sayang Allah"

3. Kenalkan sejak dini kosakata bertanggung jawab lewat perbuatan
Mis : saat merapikan mainan kita katakan : "Ayo kita bertanggung jawab merapikan kembali mainannya setelah digunakan"

4. Gunakan metode bermain
Mis : Ajak anak berlomba merapikan mainan, bermain peran menjadi ayah/bunda yang sedang merapikan rumah. Buatkan simbol/gambar-gambar yang mengingatkan anak. Mis anak yang sedang merapikan mainan, anak yang menyusun buku, menyiapkan bekal sekolah dll

5. Beri senyuman manis dan ajak anak menikmati hasil "kerja" nya
Mis saat sudah rapi kita katakan : "wah senangnya rumah kita sdh rapi kembali. Terima kasih sudah bertanggung jawab merapikan mainan"

6. Bila anak tidak segera merapikan, tahan diri dari godaan untuk merapikan sendiri, panjangin sumbunya, sabaaaaaaarrrr
Karena anak nanti mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan tugasnya. Bersabarlah. Beri kesempatan ananda untuk melakukan sesuai "irama" nya sendiri.


Silakan share tips ini pada Ayah Bunda atau Calon Ayah Bunda yang lain. Semoga bermanfaat.

Oleh Tim Yayasan Kita dan Buah Hati
Fanpage : www.facebook.com/yayasankitadanbuahhati/
Twitter : @kitadanbuahhati

ANAK SUKSES? BERMULA DARI BANGUN PAGI (TIPS PARENTING)


by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)


1| Perbaikan kualitas generasi selayaknya
dimulai dgn kebiasaan bangun di pagi hari. Sebab generasi unggul bermula dari pagi yg masygul (sibuk)

2| Kebiasaan bangun pagi hendaklah dimulai dari usia dini. Peran Ayah amat dinanti. Ayah yg peduli tak abai dalam urusan bangun pagi buah hati

3| Jika anak terbiasa bangun siang. Maka keberkahan hidup melayang. Aktivitas ruhani menjadi jarang. Perilaku menjadi jalang

4| Mulailah dengan malam yang berkualitas. Anak tidak terjaga di ambang batas. Harus buat peraturan tegas. Kapan terjaga dan kapan pulas.

5| Sehabis isya jangan ada aktivitas fisik berlebihan. Upayakan aktivitas yang
menenangkan. Membaca atau bercerita yg berkesan

6| Biasakan berbagi perasaan. Mulai dengan cerita aktivitas harian. Evaluasi jika ada yang
tidak berkenan. Sekaligus sarana pengajaran

7| Buat kesepakatan bangun jam berapa. Lantas anak mau dibangunkan bagaimana. Jadikan ini sebagai modal membangunkan di pagi harinya Tutuplah aktivitas malam dengan dengarkan
tilawah. Agar anak tidur membawa kalimat Allah
Pemberi Rahmah. Terekam dalam memorinya sepanjang hayah

9| Pagi pun datang. Jalankan kesepakatan yang dibuat sebelum tidur menjelang. Bangunkan anak penuh kasih sayang. Bangunkan dengan
cara yg ia bilang

10| Jika anak menolak tuk beranjak, ingatkan akan kesepakatan semalam. Anak siap terima konsekuensi tanpa diancam. Batasi kesenangan yg ia idam

11| Bangunkan anak dengan kalimat Ilahi. Agar paginya diberkahi. Jika perlu adzan di telinga kanan dan kiri. Bisikan dengan lembut tembus ke hati

12| Jika ia segera bangun, jangan lupa apresiasi. Hadiahi dengan doa dan kecupan di pipi. Tak lupa bertanya tentang mimpi. Anak butuh transisi

13| Jika anak telah terjaga, siapkan aktivitas olah jiwa dan raga. Agar fisik anak bergerak tak kembali ke kasur yg menggoda. Mudah-mudahan jadi pola

14| Jalankan pola ini minimal 2 pekan. Agar lama-lama jadi kebiasaan. InsyaAllah anak bangun pagi dengan kesadaran. Sebab tubuhnya telah menyesuaikan

15| Jika ayah tak sempat membangunkan, karena harus segera ke kantor kejar setoran, mintalah ibu berganti peran. Agar anak takmerasa diabaikan

16| Jangan sampai anak tumbuh remaja, punya kebiasaan yang tidak mulia. Bangun pagi selalu tertunda. Sholat shubuh di waktu dhuha. Banyak melamun tak ada guna

17| Jika terlanjur anak bangun kesiangan. Buatlah rencana bersama pasangan. Konsisten dan tidak saling menyalahkan. Fokus kepada
upaya perbaikan

18| Sebelum terlambat, segera bertindak cepat. Agar masa depan anak selamat. Fokuslah kepada perbaikan pola tidur yg sehat

19| Jika anak terbiasa bangun pagi sedari dini, itu ciri anak berprestasi. Tak mudah dipengaruhi berbagai pergaulan yg tidak islami

20| So, tunggu apalagi. Jangan cuma bisa marah dan mencaci. Segera bertindak untuk buah hati. Fokuslah kepada bangun pagi. Selamat beraksi

Sekarang (Mungkin) Kamu Kecewa, Tapi Nanti…

 Sekarang (Mungkin) Kamu Kecewa, Tapi Nanti…
Oleh: Ustadz Budi Ashari

KEMBALI, kita belajar dari Muhammad Al Fatih. Anak kecil yang disiapkan dengan cara yang tidak biasa agar menjadi generasi yang tidak biasa.

Muhammad Al Fatih tidak hanya sekali ditegasi dengan pukulan. Di tangan guru pertamanya, Ahmad bin Ismail Al Kurani, Muhammad Al Fatih merasakan sabetan untuk pelajaran pertamanya. Sebagaimana yang telah diamanahkan oleh sang ayah Murad II yang mengerti pendidikan, sang guru tak segan-segan untuk melakukan ketegasan itu.

Sekali ketegasan untuk kemudian berjalan tanpa ketegasan. Tentu ini jauh lebih baik dan diharapkan oleh setiap keluarga, daripada dia harus tarik urat setiap hari dan menampilkan ketegasan setiap saat, karena jiwanya belum tunduk untuk kebaikan.

Mungkin, Muhammad Al Fatih kecil kecewa saat dipukul. Sangat mungkin hatinya terluka. Tapi pendidikan Islam tak pernah khawatir dengan itu, karena Islam mengerti betul cara membongkar sekaligus menata ulang. Semua analisa ketakutan tentang jiwa yang terluka tak terbukti pada hasil pendidikan Muhammad Al Fatih.

Tapi ada pukulan berikutnya dari guru berikutnya. Pukulan kedua ini yang lebih dikenang pahit oleh Muhammad Al Fatih. Kali ini pukulan datang dari gurunya yang mendampinginya hingga ia kelak menjadi sultan; Aq Syamsuddin.

Bukti bahwa ini menjadi ‘kenangan’ yang terus berkecamuk di kepalanya adalah ketika Muhammad Al Fatih telah resmi menjadi sultan, dia bertanya kepada gurunya:

“Guru, aku mau bertanya. Masih ingatkah suatu hari guru menyabetku, padahal aku tidak bersalah waktu itu. Sekarang aku mau bertanya, atas dasar apa guru melakukannya?”

Bertahun-tahun lamanya pertanyaan itu mengendap dalam diri sang murid. Tentu tak mudah baginya menyimpan semua itu. Karena yang disimpannya bukan kenangan indah. Tetapi kenangan pahit yang mengecewakan. Karena tak ada yang mau dipukul. Apalagi dia tidak merasa bersalah.

Kini sang murid telah menjadi orang besar. Dia ‘menuntut’ gurunya untuk menjelaskan semua yang telah bertahun-tahun mengganggu kenyamanan hidupnya.

Jawaban gurunya amat mengejutkan. Jawaban yang menunjukkan memang ini guru yang tidak biasa. Pantas mampu melahirkan murid yang tidak biasa.

Jawaban yang menunjukkan metode dahsyat, yang mungkin langka dilakukan oleh metode pendidikan hari ini. Atau jangan-jangan sekadar membahasnya pun diharamkan oleh pendidikan hari ini.

Inilah jawaban Aq Syamsuddin,

“Aku sudah lama menunggu datangnya hari ini. Di mana kamu bertanya tentang pukulan itu. Sekarang kamu tahu nak, bahwa pukulan kedzaliman itu membuatmu tak bisa melupakannya begitu saja. Ia terus mengganggumu. Maka ini pelajaran untukmu di hari ketika kamu menjadi pemimpin seperti sekarang. Jangan pernah sekalipun mendzalimi masyarakatmu. Karena mereka tak pernah bisa tidur dan tak pernah lupa pahitnya kedzaliman.”

Ajaib!

Konsep pendidikan yang ajaib.

Hasilnya pun ajaib. Muhammad penakluk Konstantinopel.

Maka, sampaikan kepada semua anak-anak kita. Bahwa toh kita tidak melakukan ketegasan seperti yang dilakukan oleh Aq Syamsuddin. Semua ketegasan kita hari ini; muka masam, cubitan, jeweran, hukuman, pukulan pendidikan semuanya adalah tanaman yang buahnya adalah kebesaran mereka.

Teruslah didik mereka dengan cara pendidikan Islami. Kalau harus ada yang diluruskan maka ketegasan adalah salah satu metode mahal yang dimiliki Islam.

Semoga suatu hari nanti, saat anak-anak kita telah mencapai kebesarannya, kita akan berkata semisal Aq Syamsuddin berkata,

“Kini kau telah menjadi orang besar, nak. Masih ingatkah kau akan cubitan dan pukulan ayah dan bunda sore itu? Inilah hari ketika kau memetik hasilnya.”

Hari ini, saat masih dalam proses pendidikan, Anda pun bisa sudah bisa berkata kepada mereka,

“Hari ini mungkin kau kecewa, tapi suatu hari nanti kau akan mengenang ayah dan bunda dalam syukur atas ketegasan hari ini.” [parenting nabawiyah]
kajian whatsapp - parenting