Showing posts with label TAFSIR. Show all posts
Showing posts with label TAFSIR. Show all posts

Sepintas Tentang Dunia Jin (Tinjauan Al Quran dan As Sunnah) (Bag. 3)


Assalamu'alaikum...

Bagian ketiga dari pembahasan seputar dunia jin oleh ust Farid Nu'man. Bagi yang belum membaca bagian 1 dan 2 silakan klik link di bawah ini

Dunia jin bagian 1
Dunia jin bagian 2


5⃣ Iblis adalah Termasuk Bangsa Jin

Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kata Iblis merupakan  penamaan a’jami (non Arab) menurut mayoritas ulama. Sebagain lain mengatakan Iblis diambil dari kata Ablasa yang bermakna putus asa. Disebutkan; dia berputus asa dari Rahmat Allah lalu Allah mengusir dan melaknatnya. Namun hal ini tidak berdasar, sebab penamaan Iblis sudah disebutkan di Al Quran sebelum  peristiwa itu. Tetapi, ada riwayat dari Ibnu Abi Dunya, dari Ibnu Abbas, bahwa dahulu ketika masih bersama Malaikat, namanya adalah ‘Azazil, setelah itu menjadi Iblis. Riwayat ini menguatkan pendapat tersebut. (Fathul Bari, 6/339. Darul Fikr)

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلا

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al Kahfi (18): 50)
Ayat ini menjadi sanggahan bagi pendapat yang mengatakan Malaikat dan Iblis adalah sama (yakni tercipta dari cahaya). Perbedaan di antara keduanya diperkuat oleh ayat lainnya:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

(Iblis berkata): "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Al A’raf (7): 12)
Jelas sekali ayat ini menyebutkan bahwa Iblis diciptakan dari api sebagaimana Jin. Selain itu, hadits nabi juga menjelaskan, dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خلقت الملائكة من نور. وخلق الجان من مارج من نار. وخلق آدم مما وصف لكم

“Malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan bagi kalian (tanah).” (HR. Muslim No. 2996)
Iblis yang dahulu menggoda Nabi Adam ‘Alaihissalam masih hidup sampai hari kiamat. Hal ini disebutkan dalam ayat berikut:

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ   قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ 

 “Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan".  Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh." (QS. Al A’raf (7): 14-15)

 Keinginan Iblis ini dikabulkan oleh Allah Ta’ala, sebagai ujian bagi anak cucu Adam ‘Alaihissalam  di dunia. Dan, Iblis merupakan nenek moyang syetan. Dalam Al Quran, Allah Ta’ala menyebut Iblis penggoda Nabi Adam ‘Alaihissalam dan isterinya dengan sebutan syetan.

يَا بَنِي آدَمَ لا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنزعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

  “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al A’raf (7): 27)

 Hikmah dilanggengkannya Iblis dan keturunannya (syetan), sebagai berikut:

▶️ Sebagai ujian bagi manusia di dunia
▶️ Sebagai balasan atas ibadah Iblis dahulu sebelum dia durhaka dan masa-masa pengabdian itu sudah berlalu
▶️ Sebagai bentuk siksasaan baginya, agar dia banyak melalukan kejahatan di dunia yang justru akan mengabadikannya di neraka nanti.

6⃣ Syetan Termasuk Golongan Jin 
Syetan adalah termasuk bangsa jin, yakni bangsa jin yang jahat dan telah menyimpang dari kebenaran (baca; jin kafir). Syetan pun bisa berasal dari golongan manusia, yakni manusia jahat yang telah menyimpang dari kebenaran pula.

Allah Ta’ala berfirman:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِالْخَنَّاسِ   الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ   مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ 

  “Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,  yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,. dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An Nas (114): 4-6)
 Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

تفسير للذي يُوسوس في صدور الناس، من شياطين الإنس والجن

 Tafsir untuk kalimat: yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari syetan-syetan manusia dan jin.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/540)

 Adanya syetan dari kalangan manusia –yakni manusia berwatak syetan- telah Allah Ta’ala sebutkan pula dalam ayat lainnya:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

 “Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al An’am (6): 112)

 Begitu pula dalam Al Hadits, Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya:

  Dari Abu Dzar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


"يَا أَبَا ذَرٍّ، هَلْ صَلَّيْتَ؟ " قُلْتُ: لَا. قَالَ: "قُمْ فَصَلِّ " قَالَ: فَقُمْتُ فَصَلَّيْتُ ثُمَّ جَلَسْتُ، فَقَالَ: "يَا أَبَا ذَرٍّ، تَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ شَرِّ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ " قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلِلْإِنْسِ  شَيَاطِينُ؟ قَالَ: "نَعَمْ "

 “Wahai Abu Dzar: Apakah kau sudah shalat?” Aku berkata: “Belum.” Dia bersabda: “Bangunlah dan shalatlah.” Lalu aku bangun dan shalat lalu duduk. Beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, mintalah perlindungan kepada Allah dari kejahatan syetan manusia dan jin.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, manusia ada syetannya?” Dia bersabda: “Ya.” (HR. Ahmad No. 21546. An Nasa’i No. 5507. Tetapi hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, dalam tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad, cet. 1, 1421H-2001M. Muasasah Ar Risalah. Juga didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 5507)

 Syetan dalam bahasa Arab, diambil dari kata syathana- شطن yang bermakna jauh (dari kebenaran). Jauh dari watak manusia, lantaran kefasikannya terhadap kebaikan.  Ada juga yang mengatakan dari kata Syaatha-  شاط yang artinya terbakar, karena dia makhluk dari api. Ada pula yang mengatakan keduanya benar, tapi yang pertama lebih benar. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/115)

 Dari definisinya maka kita bisa paham bahwa memang ada syetan dalam wujud manusia, yakni lantaran watak manusia itu yang jauh dari kebenaran, membangkang, dan durhaka kepada aturan Rabbul ‘Alamin. Hal ini diperkuat lagi oleh riwayat shahih berikut:

 Dari Abu Said, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا مَرَّ بَيْنَ يَدَيْ أَحَدِكُمْ شَيْءٌ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَمْنَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيَمْنَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَليُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

 “Jika lewat dihadapan kalian seseorang sedangkan kalian sedang shalat maka cegahlah, jika dia menolak maka cegahlah, jika dia menolak lagi, maka bunuhlah, sesungguhnya dia adalah syetan.” (HR. Bukhari No. 3100)

 Secara potensial, memang setiap manusia memiliki syetan dalam aliran darahnya. Sehingga, kemungkinan memiliki watak syetan sangat mungkin terjadi.

 Saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjalan bersama Istrinya, Shafiyah Binti Huyay, ada dua orang laki-laki yang melihatnya dengan pandangan yang ‘berbeda’. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan klarifikasi dengan mengatakan bahwa: Dia adalah Shafiyah binti Huyay! Dua orang itu berkata: “Subhanallah Ya Rasulullah.” Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا سُوءًا أَوْ قَالَ شَيْئًا .

 “Sesungguhnya syetan berjalan pada aliran darah manusia, dan aku khawatir dia melemparkan keburukan (atau sesuatu) ke hati kalian berdua.” (HR. Bukhari N0. 3108)
 Masalah ini akan dirinci lagi dalam pembahasan: Jin Memiliki Kemampuan Menyerupai Hewan dan Manusia.

(Bersambung ...)

🍃🌾🌸🌻🌴🌺☘🌷

✏️ Farid Nu'man Hasan
🌏 Join Channel Telegram: bit.ly/1Tu7OaC


Sepintas Tentang Dunia Jin (Tinjauan Al Quran dan As Sunnah) (Bag. 2)


Assalamu'alaikum para pembaca yang budiman. Kali ini tausiah islam whatsapp kembali membahas seputar dunia jin. Kajian kali ini adalah lanjutan dari episode 1 (klik di sini untuk membaca bagian 1) yang dipaparkan oleh ust Farid Nu'man Hasan. Selamat membaca...


3⃣ Bisakah Melihat Jin?

Para ulama berbeda pendapat; apakah jin bisa dilihat? Imam Al Qurthubi Rahimahullah menguraikan:

{مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ} قال بعض العلماء: في هذا دليل على أن الجن لا يرون؛ لقوله {مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ} قيل: جائز أن يروا؛ لأن الله تعالى إذا أراد أن يريهم كشف أجسامهم حتى ترى. قال النحاس: {مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ} يدل على أن الجن لا يرون إلا في وقت نبي؛ ليكون ذلك دلالة على نبوته؛ لأن الله جل وعز خلقهم خلقا لا يرون فيه، وإنما يرون إذا نقلوا عن صورهم. وذلك من المعجزات التي لا تكون إلا في وقت الأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم.

“(dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka), berkata sebagian ulama: ini merupakan dalil bahwa jin tidak dapat dilihat karena firmanNya: (dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka). Disebutkan: “bisa saja mereka dilihat, karena Allah Ta’ala jika menghendaki memperlihatkan mereka akan disingkap jasad mereka hingga terlihat.” Berkata An Nuhas: (dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka) menunjukkan bahwa jin tidak dapat dilihat kecuali pada masa Nabi, yang demikian itu menjadi bukti kenabiannya, karena Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan mereka menjadi makhluk yang tidak dapat dilihat, sesungguhnya mereka bisa dilihat hanyalah ketika mereka beralih dari wujud aslinya. Demikian itu merupakan mu’jizat yang tidak terjadi kecuali pada masa para Nabi Shalawatullah wa Salamuhu ‘Alaihim.” (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkam Al Quran, 7/186. Dar ‘Alim Al Kutub)

Tertulis dalam Mahasin At Ta’wil tentang tafsir surat Al A’raf ayat 27 di atas, sebagai berikut:

قال السيوطي في " الاكليل " : قال ابن الفرس : استدل بها بعضهم على أن الجن لا يرون وأن من قال إنهم يُرون فهو كافر . انتهى .

“Berkata As Suyuthi dalam Al Iklil: berkata Ibnu Al Faris: sebagian manusia berdalil dengan ayat ini bahwa jin tidak dapat dilihat, dan barang siapa yang mengatakan bahwa mereka diperlihatkan jin maka dia kafir.” (Imam Jamaluddin Al Qasimi, Mahasin At Ta’wil)

Al Qasimi melanjutkan, bahwa ‘sebagian manusia’ yang dimaksud adalah golongan mu’tazilah. Oleh karena itu Az Zamakhsyari (tokoh besar Mu’tazilah) mengatakan:

فيه دليل بين أن الجن لا يرون ولا يظهرون للإنس ، وأن إظهارهم أنفسهم ليس في استطاعتهم ، وأن زعم من يدعي رؤيتهم زور ومخرقة .

“Dalam ayat ini terdapat dalil yang jelas, bahwa jin tidak dapat dilihat dan tidak Nampak bagi manusia, sesungguhnya penampakan mereka bukanlah kemampuan mereka, dan persangkaan orang yang  mengklaim dapat  melihat mereka adalah dusta.” (Ibid)
Adapun Ahlus Sunnah menyanggah pendapat mereka, bahwa hadits-hadits shahih dan masyhur menyebutkan bahwa jin dapat dilihat (tetapi bukan dalam wujud asli). Ada pun ayat di atas tidaklah mengingkari kemungkinan ini, sebab ayat di atas tidak menyebutkan ‘syetan tidak dapat dilihat’, tetapi mereka ada di tempat yang manusia tidak bisa melihat, namun mereka bisa melihat manusia.

Disebutkan dalam Fathul Bayan:

وقد استدل جماعة من أهل العلم بهذه الآية على أن رؤية الشياطين غير ممكنة ، وليس في الآية ما يدل على ذلك ، وغاية ما فيها أنه يرانا من حيث لا نراه ، وليس فيها أنا لا نراه أبداً ، فإن انتفاء الرؤية منا له في وقت رؤيته لنا لا يستلزم انتفاءها مطلقاً

“Segolongan ulama telah berdalil dengan ayat ini, bahwa melihat syetan tidaklah mungkin. Maksud ayat tersebut tidaklah demikian. Maksudnya   adalah bahwa dia (syetan) melihat kita dari tempat yang kita tidak bisa melihatnya, bukan maksudnya bahwa  kita tidaklah dapat melihatnya selamanya. Sebab, pengingkaran terhadap kita bahwa kita tidak dapat melihatnya di saat melihatnya, tidaklah mengharuskan pengingkaran secara mutlak” (Ibid. Lihat juga Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 3/26. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Imam Jamaluddin Al Qasimi Rahimahullah mengatakan:

والحق جواز رؤيتهم كما هو ظاهر الأحاديث الصحيحة ، وتكون الآية مخصوصة بها ، فيكونون مرئيين في بعض الأحيان لبعض الناس دون بعض . انتهى .

Yang benar adalah bisa saja melihat mereka sebagaimana tertulis dalam teks hadits-hadits shahih, dan ayat-ayat khusus tentang itu, maka mereka bisa dilihat oleh sebagaian manusia pada  sebagian keadaan, dan tidak pada selainnya.” (Ibid)

Tentang  hadits-hadits yang dimaksud –insya Allah Ta’ala- akan kami paparkan pada bagiannya nanti.

4⃣ Asal Usul Penciptaan Jin

Jin diciptakan dari api. Ketetapan ini bersumberkan ayat-ayat berikut:

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ
“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al Hijr (15): 27)

 Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan: jin diciptakan dari lidah api yang panas menyala (Lahbun Nar). Dalam riwayat lain: dari api yang paling bagus (min ahsanin nar). Amru bin Dinar mengatakan: dari apinya matahari (Narusy Syamsi). (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/533. Dar Nasyr wat Tauzi’)

Ayat lainnya:

وَخَلَقَ الْجَانَّ مَن مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍ

“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar Rahman (55): 15)

(Bersambung ke bagian 3...)

bagian 3 klik di sini

🍃🌾🌸🌻🌴🌺☘🌷

✏️ Farid Nu'man Hasan
🌏 Join Telegram: bit.ly/1Tu7OaC

Sepintas Tentang Dunia Jin (Tinjauan Al Quran dan As Sunnah) (Bag. 1)

Dunia jin menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk orang Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari begitu banyaknya khurafat yang ada di negeri ini. Hampir semua daerah memiliki cerita mistik. Sebenernya apa dan bagaimana sih dunia jin itu? Yuk kita simak pembahasan ust Farid Nu'man Hasan berikut ini...


1⃣ Mukadimah

 Indonesia adalah merupakan negeri muslim terbesar di dunia. Banyaknya penduduk muslim, tidak sebanding dengan keberadaan ulama yang mampu menjelaskan masalah keagamaan yang dihadapi mereka. Di antaranya adalah  masalah aqidah yang belum mendapatkan penjelasan secara wadhih (terang) adalah tentang dunia ghaib. Masalah ini sering dipersepsikan secara dramatis oleh orang Indonesia, selain memang umumnya orang Indonesia cukup akrab dengan dunia klenik, sehingga persepsi mereka terhadap alam ghaib didasarkan oleh hal-hal yang bersifat tahayul, khurafat, dan mitos.

 Sebenarnya tema pembicaraan alam ghaib amat luas cakupannya, seperti keimanan kepada Allah, Malaikat, kiamat,  akhirat, yaumul ba’ats (hari kebangkitan) , surga dan neraka, shirath (jembatan), ru’yatullah, dan lainnya. Tetapi di negeri kita ini, jika disebut alam ghaib, persepsi pertama masyarakat kita adalah dunia jin (‘Alamul Jin). Masih bagus jika pemahaman tentang itu dibangun dalam koridor wahyu dan akal yang bersih, tetapi kenyataannya mereka diombang-ambing oleh keyakinan nenek moyang yang keliru, bahkan campuran dari ajaran agama lain.

📌 Mengimani Bukan Mengutak-ngatik

 Tugas pokok kita terhadap perkara ghaib adalah mengimaninya. Tetapi, banyak manusia telah melampaui batasan ini. Mereka menyikapi masalah ghaib seperti sebuah kajian empiris yang diselimuti berbagai misteri yang menyelimutinya. Bukan itu tugas kita.

 Allah Ta’ala berfirman tentang ciri-ciri orang bertaqwa:

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3)

“Alif laam miin.  Kitab  (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,  (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah (2): 1-3)
Pengetahuan manusia terhadap dunia ini amatlah sedikit, maka sikap mendramatisir alam ghaib, seperti yang digambarkan dalam film, komik, cerita masyarakat, hikayat, dan lainnya, adalah perilaku  lancang namun menggelikan.

 Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لاَ يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلا هُوَ
   
 “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.” (QS. Al A’raf (7): 187) 
 Seorang muslim hendaknya bersikap dan berkeyakinan sebagaimana  catatan Al Quran dan As Sunnah Ash Shahihah. Dia berjalan dan berhenti bersama keduanya, menetapkan apa yang ditetapkan keduanya, dan mengingkari apa yang diingkari keduanya pula. Menahan diri untuk merekayasa dan mengarang-ngarang cerita alam ghaib yang tidak berdasar. Dia diam apa yang didiamkan, dan dia bicara apa yang dibicarakan oleh keduanya. Hal ini bukan hanya dalam perkara ghaib, tetapi juga yang lainnya.  Disinilah letak pentingnya materi ini, yaitu mencoba mengimani masalah jin sesuai bimbingan syariat yang suci.

Kami akan bahas secara global dan menyeluruh, walau dalam beberapa hal kami harus merincinya. Paling tidak ini adalah pengantar bagi seorang muslim untuk mencoba mengimani masalah ghaib berdasakan ilmu yang benar.

2⃣ Makna Jin

Dalam bahasa Arab, kata Al Jinn - الجنّ, kata dasarnya  dari janna – yajunnu – jannan yang bermakna menutup. Jika kita perhatikan, susunan kata yang terdapat satu huruf jim dan dua huruf nun, biasanya bermakna benda-benda yang terhalang dan tak terlihat.

Contoh: majnun – مجنون yang berarti gila karena akalnya sudah tertutup.  Janin – جنين yang berarti bayi yang masih (tertutup) diperut ibunya. Jannah – جنّة   yang bermakna taman (surga) yang saat ini belum dapat kita lihat. Maka, Jin adalah makhluk ghaib yang tidak terlihat oleh kasat mata. Dan, dia tidak bisa tampil ke hadapan manusia dalam wujud asli, dan dustalah orang yang mengaku pernah melihatnya dalam wujud asli, kecuali Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai mu’jizat baginya, sebagaimana ia pernah melihat Malaikat jibril dalam wujud aslinya sebanyak dua kali.. Ada pun wujud ‘syetan’ yang dikenal dan dilihat oleh masyarakat adalah wujud lain dan  tipuan mereka terhadap manusia,  agar manusia takut kepadanya bukan takut kepada penciptanya. Mereka tidak mampu tampil dalam wujud aslinya karena memang bukan dunianya. Mereka mampu berwujud sosok yang terlanjur dikenal sebagai syetan itu,  hewan, atau –bahkan- manusia. Itulah yang bisa dilihat oleh manusia, itu pun  jarang dan bukan keinginan manusia itu sendiri.

Tipuan ini semakin terlihat ketika kita meneliti bahwa  wujud-wujud ‘syetan’ itu memiliki khas kedaerahan,   seperti pocong, wewegombel, gandaruwo, kuntil anak, dan lainnya  hanya ada di Indonesia. Sementara, zombie, drakula, vampire, hanya ada di Amerika. Ada pun di Mesir di kenal dengan Mumi. Kita tidak akan temukan mumi di Indonesia, sebagaimana kita tidak akan temukan pocong  di Amerika!  

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia (syetan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al A’raf (7): 27)

(Bersambung....)

Bagian 2 klik di sini

🍃🌻🌴🌾🌸🌺☘🌷

✏️ Farid Nu'man Hasan
🌏 Join Telegram: bit.ly/1Tu7OaC


Tafsir Surah alBaqarah : 27

RUBRIK TAFSIR ODOJERS
Edisi, Sebelas
Jum'at, 20 Maret 2015

Tafsir Surah alBaqarah : 27

بسم الله الر حمن الر حيم
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي
 الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (27)

"(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk disambungkan dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi" {27}

❗Sebelum masuk pada tafsiran ayat diatas, ada baiknya membaca kembali tafsiran ayat 26, karena ada keterkaitan antara ayat 26 dan 27.

📃Tafsir ayat :

Syu’bah meriwayatkan, dari Amru bin Murrah, dari Mus’ab bin Sa’d berkata, “Aku bertanya kepada ayahku mengenai firman Allah Swt - الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِه - hingga akhir ayat. Beliau Menjawab , “Mereka adalah Haruriyah (Khawarij)".

Walaupun sanad dari Sa’d bin Abi Waqas shahih, tapi ini merupakan tafsiran terhadap makna ayat. Maka bukan maksud ayat menjadikan khawarij bagian dari nash Al Qur’an. Mereka (Khawarij) adalah orang-orang yang memberontak kepada Ali Ra saat peristiwa di Nahrawan.
Dan mereka belum ada saat ayat ini turun , tetapi mereka memiliki kesamaan sifat dengan yang dijelaskan Al Qur’an.
Mereka di sebut Khawarij karena keluar dari keta'atan kepada pemimpin dan syari’at islam.

📃"Fasik"secara bahasa bermakna keluar dari ketaatan. Kata "Fasik" sendiri mencakup seorang kafir dan pendosa, namun kefasikan orang kafir ternyata lebih berbahaya. Adapun maksud dari ayat ini adalah orang fasik yang kafir. Wallaahu’alaam.

📃Sifat orang kafir yang digambarkan ayat diatas, berbeda dengan sifat orang mukmin, sebagaimana dalam firman Allah pada surat Ar-rad : 19-25.

🔹Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam memaknai عَهْد (perjanjian) yang telah dilanggar oleh orang-orang fasik.

📃Sebagian berpendapat, “Ini adalah wasiat Allah Swt kepada makhluk-Nya agar menaati segala perintahNya dan menjahui segala laranganNya sebagaimana yang ada didalam kitabNya dan sebagaimana yang telah disampaikan melalui lisan Rasul-Nya. Mereka melanggar perjanjian itu dengan tidak mengamalkan hal tersebut".

📃Sebagian lain berpendapat, “Ini berkenaan dengan orang kafir dan orang munafik dari kalangan Ahli kitab. Perjanjian yang mereka langgar adalah perjanjian yang Allah Swt ambil dari mereka didalam taurat, untuk beramal dengan apa yang dijelaskan didalamnya dan mengikuti Nabi Muhammad SAW jika telah diutus, serta membenarkan dan menyakini apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Namun mereka merusak perjanjian ini dengan menentang dan menyembunyikan pengetahuan tetang hal ini dari manusia. Padahal mereka telah berjanji untuk menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.
Ini pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, hal ini pula yang merupakan pendapat Maqatil bin Hayyan.

📃Sebagian lain berpendapat, “Ayat ini mencakup orang kafir, musyrik, dan munafik.
Penjanjian atas mereka dalam mentauhidkan Allah Swt, dengan adanya bukti-bukti Rububiyah.
Dan perjanjian dalam perintah dan larangan Allah Swt, dengan adanya bukti mukjizat Rasul Saw sebagai bukti kebenaran.

Mereka melanggaran perjanjian itu dikarenakan mereka tidak meyakini bukti-bukti kebenaran yang telah dijelaskan kepada mereka. Kemudian mendustakan Rasul Saw dan kitab-kitab walau mereka mengetahui kebenaran sesungguhnya.

📃Pendapat lain mengatakan bahwa perjanjian yang disebutkan merupakan perjanjian yang diambil atas mereka ketika mereka dikeluarkan dari tulang sulbi Adam. Allah berfirman (lihat al-'araf :172-173) .
Kemudian maksud merusak perjanjian adalah, mereka tidak menepati janji tersebut.
Semua pendapat diatas dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir didalam tafsirnya.

🔹Abu ja’far bin Razi meriwayatkan dari Rabi’ bin Anas, dari Abi Aliyah telah berkata terkait ayat ini : “Ada 6 ciri orang munafik apabila mereka memperoleh kemenangan atas orang lain maka mereka akan menampakkan 6 ciri ini : 1) Apabila berkata dusta, 2) apabila berjanji mungkir, 3) apabila dipercaya khianat, 4) mereka melangkar perjanjian Allah setelah diteguhkan, 5) memutuskan apa yang Allah perintahkan agar dihubungkan, 6) membuat kerusakan di bumi. 

🔹Tetapi jika tertimpa kekalahan, maka mereka akan menampakkan 3 ciri ini: 1) Apabila berkata dusta, 2) apabila berjanji mungkir, 3) apabila dipercaya khianat.

📃As-saddi dalam tafsirnya  berkata terkait ayat ini, “perjanjian yang ditujukan kepada mereka tersebut ada didalam al-qur’an dan mereka mengakuinya. Lalu kemudian mereka menjadi kafir dan merusak perjanjian tersebut.”

Pada kalimat selanjutnya Allah berfirman :
( وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَل )
"memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya "
Maksudnya, menjalin silaturahim dengan sanak kerabat.
Sebagaimana yang ditafsirkan Qotadah dan pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Jarir.

📃Namun pendapat lain mengatakan, makna yang dimaksud lebih umum, yaitu setiap apa saja yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan dan dikerjakan. Namun mereka malah memutusnya.

📃Muqotil bin Hayyan berkata mengenai akhir dari ayat ini, 
(أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ)
"Mereka itulah orang-orang yang rugi"
Ini semakna dengan firman Allah,
( ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻌْﻨَﺔُ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﺳُﻮﺀُ ﺍﻟﺪَّﺍﺭ )
"Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi
mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)" {Ar-Ra'd: {25}

📃Diriwayatkan dari Dahaak dari Ibnu Abbas “setiap kata "merugi" yang Allah nisbahkan kepada selain muslim, maka maknanya adalah kekufuran. Sedangkan jika dinisbahkan dengan orang muslim maka maknanya adalah dosa.

📃Ibnu jarir berkata terkait firman Allah (أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ)
Khaasiruun bentuk jamak dari khasirun yaitu mereka yang mengurangi keberuntungan mereka dari rahmat Allah, karena perbuatan maksiat mereka kepada Allah.
Seumpama seorang pedagang yang rugi dalam perniagaannya. Maka orang munafik dan orang kafir akan memperoleh kerugian dengan diharamkannya rahmat Allah Swt atas mereka di hari kiamat, padahal saat itu mereka benar-benar membutuhkan rahmat Allah Swt.

Walaahu'alaam bishshowwab

📚Tafsir Al Qur'an Al azhim

Diterjemahkan Oleh:
Tim Tafsir Divisi Tsaqafah Islamiyah PSDM ODOJ

RTO/11/20/03/2015/divisiTSIPSDMODOJ

Tafsir Srt Al Muzammil terkait dgn QL

o/ Ust. Abdul Aziz AR.

1. Perjuangan Qiyamullail adalah bangun, berjalan ke kamar mandi dan berwudhu.

2. Bila QL terlewat hendaknya digantikan dengan meningkatkan ibadah sunnah dhuha dan rawatib untuk menjaga kondisi ruhiyah.

3. Jangan meninggalkan QL tanpa udzur syar'i kecuali karena ketiduran. Tapi kalau ketiduran terus menerus berarti tidak ada keinginan untuk QL.

4. QL terkait dengan Tilawatil Qur'an. Bila jauh dari QL maka biasanya jauh juga dengan Qur'an.

5. Bila tidak mampu menghafal 30 juz, wajibkan diri kita untuk menghafal juz 30 seperti membaca Al Fatihah.

6. Bagaimana bisa menikmati Qur'an bila tidak punya keinginan untuk menghafal.

7. Lakukan QL dengan tekun, tabtila (a.8) berasal dari kata terputus. Lepaskan urusan dunia, fokus dalam urusan akhirat di waktu malam.

8. Lakukan QL dengan shabar dalam ketaatan. Semakin berat kondisi seharusnya lebih termotivasi untuk QL. (a.10) Serahkan urusan yg berat itu kepada Allah melalui QL.

9. Kalau orang kafir saja bersabar dalam kekufurannya seharusnya kita mampu bersabar dalam keimanan.

10. QL harusnya akan meningkatkan keimanan kita kepada hari akhir.

11. Semua harus dimulai dari keinginan, barulah solusi itu muncul. Bagaimana dengan tantangan masa kini.

12. Makruh seseorang setelah Isya ngobrol, kecuali untuk urusan menuntut ilmu dan dakwah. (Imam Nawawi).

13. Tidak QL, mengindikasikan banyak hal. Indikasi bahwa kita tidak rindu kepada Allah, tidak cukup beriman pada hari akhirat. Ini SERIUS. Bisa pula karena beban maksiat yg kita lakukan yg menyebabkan kita berat untuk QL. Astaghfirullahaladzim.

14. Manfaat kita menjadi lebih shabar dalam menghadapi tantangan dakwah. Dampaknya persoalan dunia menjadi kecil.

15. Asbaabun Nuzul, ketika Rasulullah berkeluh kesah atas beratnya tantangan dakwah. Awalnya QL diwajibkan pada para shahabat.

16. Kegiatan penduduk syurga sedikit tidurnya dan banyak istighfar dan infaqnya. QS  Adzariyat. Al Qur'an akan dijauhkan dari orang yg tidak mau dekat. MUSIBAH BESAR.