Showing posts with label HIKMAH. Show all posts
Showing posts with label HIKMAH. Show all posts

Wanita Shalihah dan Bidadari Surga; Mana Yang Lebih Utama?

tausiah islam - kajian islami tentang wanita shalihah dan bidadari surga
Punten admin..ada yg niitp pertanyaan..
Lebih mulia mana bidadari surga dan wanita solehah?
Member Manis I-06

🍃🍃🍃

Bismillah wal Hamdulillah .., wanita shalihah, wanita yang beriman dan beramal shalih, itu lebih mulia di banding bidadari dan malaikat.

Dasarnya, Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shalih, mereka itulah sebaik-baiknya makhluk. (QS. Al Bayyinah: 7)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

وقد استدل بهذه الآية أبو هريرة وطائفة من العلماء، على تفضيل المؤمنين من البرية   على الملائكة

Abu Hurairah dan segolongan ulama telah berdalil dengan ayat ini bahwa kaum beriman di kalangan manusia lebih utama dibanding malaikat. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/458)

Dalam hadits juga demikian, Ummu Salamah Radhiallahu 'Anha bertanya:

يا رسول الله أنساء الدنيا أفضل أم الحور العين قال بل نساء الدنيا أفضل من الحور العين كفضل الظهارة على البطانة

Wahai Rasulullah, apakah wanita di dunia lebih utama di banding bidadari? Beliau bersabda:

 "Bahkan wanita dunia itu lebih utama dibanding bidadari, seperti keutamaan yang nampak dibanding yang tersembunyi."

(HR. Ath Thabarani, Al Kabir No. 870. Al Haitsami berkata: "Dalam sanadnya terdapat Sulaiman bin Abi Karimah, yang didhaifkan oleh Abu Hatim dan Ibnu 'Adi." Lihat Majma'uz Zawaid, 7/25)
Demikian. Wallahu A'lam

🍃🌾🌻🌸🌴☘🌺🌷

✏️ Farid Nu'man Hasan
🌏 Join Telegram: bit.ly/1Tu7OaC

Dahulu Mereka Adalah Rijal (Ksatria), Kini Menjadi Buih


Sungguh, da’wah ini tidak akan mengalami kerugian sama sekali dengan adanya da’i yang insilakh (ter-eksitasi/terlempar) dari da'wah. Sebab, Allah ﷻ  Maha Berkuasa Atas Segalanya, akan menggantikan mereka dengan kaum yang lebih baik, kaum yang siap berjihad fisabilillah, dengan harta dan jiwanya. Janganlah mereka mengira, absennya mereka dari da’wah membuat da’wah goncang dan merasa kehilangan. Masih banyak  Abna’ul Islam yang antri untuk memperjuangkan agama ini, dan meninggikan panji-panjinya. Untuk itu adalah hal yang mudah bagi Allah ﷻ .

Allah  ﷻ  berfirman dalam surat at Taubah (9):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ (38) إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (39)

" Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia Ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.
Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadir-nya menjelaskan, bahwa ayat di atas, tidak ada perbedaan pendapat, turun ketika perang Tabuk tahun ke 9 setelah hijrah, ketika banyak manusia yang menyelisihi perintah Rasulullah ﷺ  untuk berangkat ke Tabuk.  Pada ayat 38 kalimat tanya, ‘Apakah sebabnya jika dikatakan kepadamu’ merupakan pengingkaran dan celaan (lil inkar wat tawbikh) atas perilaku mereka yaitu ayyu syai’ yamna’ukum min dzalik, apa yang menghalangi kalian untuk berangkat (an nafr). An Nafr adalah bertolak secara cepat dari satu tempat ke tempat lain karena adanya perintah. Apakah halangan itu adalah kenikmatan dunia? (dalam kitab lain disebut bahwa saat itu sedang musim panen kurma) Padahal ia tidak seberapa dibanding kenikmatan akhirat yang abadi.  

Ayat 39, kalimat Illa tanfiruu (jika kamu tidak berangkat untuk berperang), ini merupakan peringatan yang keras, dan ancaman yang amat serius atas orang-orang yang tidak mau an nafr (berangkat jihad) ke Tabuk bersama Rasulullah ﷺ . Yu’adzdzibukum ‘adzaaban aliima artinya kalian akan dibinasakan dengan adzab yang keras dan menyakitkan. Ada yang mengatakan di dunia saja, ada pula yang mengatakan lebih dari itu.

Wa yastabdil qauman ghairakum: artinya Allah ﷻ akan jadikan untuk RasulNya pengganti kalian dari kalangan orang-orang yang tidak santai dan menunda-nunda memenuhi panggilannya. Siapakah kaum itu? Ada yang mengatakan penduduk Yaman, ada pula yang menyebut Persia, namun tak ada keterangan spesifik tentang ini. FirmanNya: Wa laa tadhurruu hu syai’a (dan kamu tidaklah memberi kemudharatan kepadaNya sedikit pun), masih berkait dengan yastabdil (diganti), adapun dhamir (kata ganti orang/pronomina) hu disebutkan untuk Allah, dan ada juga pendapat menyebutkan hu tersebut untuk Nabi ﷺ. Jadi maknanya: Sama sekali tidak memudharatkan Allah ﷻ jika kalian meninggalkan perintah untuk an nafr (berangkat jihad), dan sama sekali tidak merugikan RasulNya jika kalian tidak menolongnya dengan an nafr bersamanya. FirmanNya: Wallahu ‘ala kulli syai’in qadiir  (Allah Maha Kuasa atas Segala sesuatu) maksudnya diantara kekuasaanNya adalah  Dia mengadzabkan kalian dan mengganti kalian dengan kaum yang lain. Sampai di sini dari Imam Asy Syaukani.

Demikianlah, Allah ﷻ   sangat mampu membuat rijal-rijal baru untuk menggantikan yang lama yang telah menjadi buih. Buih benda yang amat ringan dan mudah terombang ambing. Tentunya, sudah tidak berharga.

📌 Bagaimana Rijal yang Dimaksud?

Siapa dan bagaimana rijal yang diinginkan? Apakah sekedar laki-laki sesuai dengan makna bahasanya? Tidak! Rijal di sini adalah rijal yang digambarkan oleh Al Qur’an, bahkan bukan monopoli kaum laki-laki, sebab secara nilai dan esensi bisa saja kaum wanita lebih ‘rijal’ (baca: pejuang) dari laki-laki.

Inilah Rijal itu  :

1⃣ Menepati janjinya kepada Allah ﷻ   untuk mati syahid
Allah ﷻ  berfirman dalam surat Al Ahzab (33) ayat 23:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)."

Ayat ini turun lantaran tekad seorang sahabat yakni Anas bin an Nadhar Radhiallahu ‘Anhu  yang luput darinya perang Badr, sehingga ia tidak bisa jihad bersama Rasulullah ﷺ  saat itu, ia berjanji akan ikut menemani jihad Rasulullah di Uhud, ketika terjadi peperangan ia terbunuh dengan tujuh puluh luka tombakan, lalu turunlah ayat di atas. (HR. Muslim) 

Kekuatan untuk menepati janji inilah yang menyebabkan Anas bin An Nadhr Radhiallahu ‘Anhu (paman Anas bin Malik  Radhiallahu ‘Anhu) membuktikan respon spontan kepada Sa’ad bin Mu’adz ra tatkala pasukan mukmin terdesak oleh musyrikin di perang Uhud dengan ucapannya:

يا سعد، الجنة.. إني لأجد ريحها من دون أحد

Ya Sa’ad ! Surga… aku mencium baunya di bawah bukit Uhud..Kemudian beliau maju menjemput syahid sehingga jenazahnya tidak dapat dikenali kecuali oleh saudara perempuannya lewat jari tangannya (Muttafaq ‘alaih - Riyadhus shalihin, Kitab Al-Jihad, hadits no 1317).

Rijal seperti ini tidak bisa diam walau sejenak, ia selalu bergerak bersama da’wah atau para da’inya. Ia sedih jika tidak bersama mereka, menangis jika ketinggalan qafilah da’wah.

2⃣ Berjiwa Pemimpin

Inilah ciri rijalud da’wah selanjutnya. Bermental pemimpin; cerdas, kuat, terjaga, amanah, dewasa, bertanggung jawab, siap menerima kritik, adil, melindungi dan mengayomi.  Walau sewaktu-waktu ia harus siap menjadi prajurit, tanpa merasa direndahkan sebagaimana Saifullah al Maslul (pedang Allah yang terhunus) Khalid bin Walid Radhiallahu ‘Anhu.
Allah ﷻ   berfirman dalam surat An Nisa’(4) ayat 34:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka... "

Ayat ini  merupakan ayat yang sharih (jelas) bahwa lelaki adalah pemimpin bagi wanita, bukan hanya di rumah tangga tetapi juga dalam jamaah da’wah dan negara. Sebagian kaum rasionalis liberal mengatakan bahwa ayat ini hanya menunjukkan bahwa kepemimpinan laki-laki hanya pada rumah tangga. Ini pemahaman yang perlu dikoreksi. Dalam ushul fiqih ada istilah qiyas aula, contohnya, Allah ﷻ  melarang keras seorang anak  berkata ‘uh’ terhadap kedua orang tuanya, nah jika ‘uh’ dilarang keras apalagi lebih dari itu seperti menganiaya secara fisik. Begitu pula dalam masalah ini,   jika wanita bukanlah pemimpin di rumah tangga, apalagi yang lebih tinggi dan kompleks dari itu seperti Negara.

Namun, tidak bisa dipungkiri, tidak sedikit lelaki yang bukan rijal (Ksatria)! Ia lebih lembek dari tahu, dan lebih lunak dari keong siput. Ini menjadi berita duka cita bagi kaum laki-laki. Juga tidak dipungkiri,,tidak sedikit wanita kuat bermental baja dan bernyali singa. Merekalah mujahidah yang di tangannya lahir singa-singa da’wah dan jihad seperti Kamaluddin as Sananiry, Marwan Hadid, Said Hawwa,  ‘Imad ‘Aqil, Muhammad Fathi Farhat, ‘Abdullah ‘Azzam, dan lain-lain. Merugilah para ibu yang tidak mampu membentuk pribadi-pribadi seperti mereka. Walau Anda bukan pemimpin, tetapi di tangan Andalah lahirnya para pemimpin dan pahlawan. 

3⃣ Selalu Berdzikir kepada Allah ﷻ

Rijalud Da’wah, sesibuk apapun, tidak akan lepas darinya dzikir kepada Allah, baik lisan atau hati, baik sendiri atau keramaian, baik lengang atau sibuk. Berzikir kepada Allah ﷻ merupakan manifestasi dari mahabbatullah, sebab katsratudz dzikri (banyak mengingat) merupakan salah satu ‘alamat  (tanda) jatuh cinta kepada Allah ﷻ. Lebih dari itu, karena rijalud da’wah mengerti betapa dahsyatnya hari pembalasan itu.

Allah ﷻ berfirman dalam surat An Nur (24) ayat 37:

 رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang."

Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadir-nya mengatakan: Inilah sifat rijal, kesibukkan mereka dalam  perniagaan dan jual beli tidaklah melalaikan mereka dari mengingat Allah. Dikhususkannya perniagaan karena itu adalah kesibukkan yang paling besar bagi manusia. Ada pun perbedaan antara at tijaarah (perniagaan) dan al bai’(jul beli), adalah kalau at tijaarah aktifitas dagang bagi musafir, sedang al bai’ aktifitas dagang bagi yang mukim, sebagaimana yang dikatakan Imam al Waqidy.

Imam Hasan al Banna Rahimahullah berkata dalam sepuluh wasiatnya: Qum ilash shalah mataa sami’ta an nidaa’ mahma takunuzh zhuruf (dirikanlah shalat ketika engkau mendengar panggilannya, bagaimanapun keadaanmu).(Risalatut Ta’alim wal Usar, hal. 39. Darut Tauzi’ lith thiba’ah al Islamiyah, 1984)

Responnya cepat terhadap hak ibadah seperti; tepat waktu, menjaga adab-adab dan rutinitasnya. Sehingga ia menjadi contoh bagi orang yang berinteraksi dengannya. Tanpa ia berda’wah secara lisan (lisanul maqal) pun, manusia sudah bisa merasakan ajakan kebaikan melalui perilakunya (lisanul haal).

4⃣ Memakmurkan Mesjid

Aktifitas Rijalud Da’wah selalu terpaut dengan mesjid, bukan semata-mata badannya, tetapi hati dan akhlaknya. Di mana ia berada, tidak pernah menanggalkan akhlak mesjid, yaitu taqwa.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah ﷺ   bersabda (tentang tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari akhir nanti, diantaranya): ……… Rajulun qalbuhu mu’llaqatun fil masjid (seseorang yang hatinya terpaut dengan mesjid) (HR. Muttafaq ‘Alaih. Riyadhus Shalihin, hadits no. 376)

Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin jabal Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah ﷺ   juga bersabda: “Bertaqwallah kalian di mana saja berada, dan ikutilah berbuatan buruk kalian dengan perbuatan baik, nicaya(kebaikan) itu akan menghapuskan keburukan, dan bergaul-lah dengan manusia dengan akhlak yang baik” (HR. At Tirmidzi, katanya hasan, dalam naskah lain hasan shahih, Arbai’n an Nawawi, hadits no. 18)

Allah Ta’ala berfirman dalam surat At Taubah (9) ayat 108:

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ 

  "Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu (mesjid dhirar) selama-lamanya. sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang (rijal) yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih."

Itulah karakter  rijalud da’wah; shidq terhadap janji untuk mati syahid, berjiwa pemimpin, banyak berdzikir dan terpaut dengan mesjid. Namun, tidak sedikit orang-orang yang dahulunya rijal, sekarang hilang dari peredaran, jangankan da’wah, shalat berjamaah di mesjid pun tidak. Sibuk dengan urusan dunia, mengumpulkan harta, mengejar target hidup yang tak pernah habis, bahkan justru berbalik menyerang da’wah.

Kebersamaan dengan mereka  kini tinggal kenangan saja. Dahulu menangis bersama, daurah, muzhaharah, syura, juga bersama, kini? Dimana kau saudaraku?

Bisa jadi, di antara mereka merupakan mu’assis (perintis) da’wah. Dialah yang membuka ladang da’wah pertama kali di tempatnya, dialah yang membangunkan manusia dari tidurnya, dialah yang merekrut banyak mujahid muda, namun kini, di mana kau saudaraku?  

Semoga Allah ﷻ tidak menyia-nyiakan amalmu yang bermanfaat, sebab yang bermanfaat akan tetap tinggal di bumi, adapun buih pasti akan lenyap. Renungkanlah ayat ini:

 أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

Allah Telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (QS. Ar Ra’du (13): 17)  

Wallahu waliyyut taufiq

🍃🌴🌻🌾🌸🌷☘🌺

✏️ Farid Nu'man Hasan
🌏 Join Telegram: bit.ly/1Tu7OaC

Haruskah Menunggu Tua?


Tidak sedikit Alquran menceritakan sosok pemuda ideal. Tidak sekadar memuji, Alquran bahkan menjadikannya sebagai teladan zaman. Ada Ibrahim, potret pemuda yang gigih menegakkan tauhid di tengah para penggiat syirik. "Sungguh Ibrahim adalah imam yang layak dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali dia bukanlah pelaku syirik" (QS an-Nahl [16]: 120).

Putra beliau, Ismail, adalah tipe pemuda yang berhati jujur dan suci. Ketika Ibrahim mengabarkan wahyu Allah untuk menyembelih dirinya, jawaban Ismail adalah, "Wahai Ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah aku termasuk orang-orang yang sabar" (QS as-Shaffat [37]: 102).

Alquran juga mengabadikan kisah Yusuf. Pemuda tampan ini sungguh luar biasa. Ketika dirayu Zulaikha, wanita cantik yang juga istri pembesar Mesir, Yusuf sanggup menundukkan gelombang syahwatnya sebagai lelaki normal. Dia lebih memilih penjara ketimbang berbuat mesum. "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku" (QS Yusuf [12]: 33).

Dan, yang juga terkenal adalah kisah Ashabul Kahfi. Cave of the Seven Sleepers, itulah nama situs bersejarah di Yordania yang jadi saksi atas tujuh pemuda bersama anjing mereka. Ngumpet demi mempertahankan akidah, mereka diselamatkan Allah dari kezaliman penguasa setempat. Tujuh pejuang tauhid itu ditidurkan Allah selama 309 tahun. "Sungguh mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula petunjuk untuk mereka" (QS al-Kahfi [18]: 13).

Cukuplah cuplikan kisah pemuda teladan itu. Hal yang penting kita cermati, masing-masing pemuda itu hebat ternyata bukan sekadar berotak cerdas atau berbadan kesatria. Mereka punya idealisme iman. Dan, kita tahu, iman adalah kemantapan hati yang diikrarkan dengan lisan, kemudian dinyatakan via tindakan. Itulah kunci keunggulan dan kehebatan diri.

Sekarang mari kita becermin: sudahkah pemuda kita punya keimanan prima itu? Minimal berusaha mematut-matutkan diri agar dapat seperti mereka. Kita tengok masjid kita. Berapa banyak pemuda kita yang aktif jamaah di sana? Ketika Maghrib mungkin bisa dikatakan lumayan, tetapi bagaimana dengan Isya dan terlebih lagi Subuh? Juga dalam majelis taklim, sudahkah penuh oleh pemuda atau justru para tua?

(Husnaeni/ROL)


Begini Cara Dapatkan Keberkahan Hidup



Sungguh, masyarakat pada saat itu bisa meraba dan menyaksikan betapa keberkahan hidup begitu melimpah.

Di antara hal yang tersirat dari misi pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah, menciptakan masyarakat Islam yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Karena itulah sering kita dapati dari khutbah-khutbahnya di depan rakyat, maupun dari surat-suratnya untuk para pegawai dan pejabatnya, seringkali kalimat “bertakwallah kalian pada Allah”, atau sebuah ajakan untuk mempersiapkan diri menyonsong kampung akhirat itu diulang-ulang.

Umar bin Abdul Aziz tahu, bahwa untuk mengundang keberkahan dan kesejahtaraan hidup yang merata, salah satu caranya adalah itu. Rakyat maupun masyarakat harus beriman dan bertakwa pada Allah Swt. Inilah bentuk langkah aplikatif Umar bin Abdul Aziz yang ia fahami dari firman Allah SWT;


“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96).

Sungguh, masyarakat pada saat itu bisa meraba dan menyaksikan betapa keberkahan hidup begitu melimpah. Dalam bentuk materi maupun maknawi. Masyarakat seperti dikejutkan sesuatu, karena ternyata keberkahan dan kesenangan hidup itu menyeluruh, dirasakan oleh semua masyara-kat di seluruh penjuru pemerintahan Bani Umayyah.

Masyarakat sejahtera. Harta yang mereka miliki berkah. Keuangan negara semakin kuat dan terus bertambah. Kedamaian merata. Sampai-sampai orang-orang yang hendak mengeluarkan za-kat maupun sedekah merasa bingung, mau dikeluarkan kemana uang mereka.

Yahya bin Sa’id berkata, “Umar bin Abdul Aziz menyuruhku untuk membagikan sedekah kepada masyarakat muslim di Afrika. Aku mencari-cari orang miskin yang mau kuberi sedekah itu namun aku tak menjumpai orang miskin disana. Akhirnya, tak ada orang yang mengambil sedekah itu dariku. Sungguh Umar bin Abdul Aziz telah memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Akupun mem-beli budak dengan harta sedekah itu. Kemudian aku memerdekakannya atas nama ummat Islam.


(Referensi: Umar bin Abdul Aziz 29 Bulan Mengubah Dunia/Karya: Herfi Ghulam Faizi, Lc/Penerbit: Cahaya Siroh)

Tujuh Injeksi Iman




Allah berfirman tentang keimanan:

 هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَاناً مَّعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيماً حَكِيماً

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS. 48 Al-Fath, 4]

Para ulama menjelaskan tentang ayat tersebut bahwa jika iman bisa bertambah berarti juga bisa berkurang.

Sahabat Handholah Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Telah munafik Handholah wahai Rasulullah”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bertanya: “Mengapa seperti itu?”.

Handholah Radhiyallahu ‘Anhu menjawab: “Wahai Rasulullah, ketika kami berada di sisi Anda dan Anda mengingatkan kami tentang surga dan neraka maka seakan surga dan neraka berada di depan mata kami, tapi ketika kami keluar dari sisi Anda dan kami berkumpul dengan istri-istri dan anak-anak kami serta pekerjaan kami maka kami banyak lupa.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sekiranya keadaanmu terus menerus seperti ketika di sisiku dan ketika mendapat peringatan sungguh pasti malaikat-malaikat akan mengajakmu berjabat tangan ketika kamu di tempat-tempat tidurmu dan di jalan-jalanmu, akan tetapi wahai Handholah sesaat sesaat”. (HR. Muslim)

Maksud Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah bahwasanya keimanan itu tidak mungkin bertambah terus, tapi adakalanya berkurang, kalau seseorang itu imannya bertambah terus dan tidak pernah berkurang pasti para malaikat akan kagum dan mengucapkan selamat kepadanya. Kita harus beraktifitas dalam kehidupan sehari-sehari seperti berkumpul keluarga dan bekerja mencari nafkah yang diantara konsekuensinya adalah kadang keimanan berkurang dan menurun, sehingga kita juga harus mempunyai saat-saat untuk menambah dan meningkatkan keimanan seperti menghadiri majlis-majlis ilmu dan nasehat.

Berkata Umair bin Hubaib rahimahullah: “Iman itu bertambah dan berkurang”. Beliau ditanya: “Apa tanda bertambah dan berkurangnya?”. Beliau menjawab: “Jika kita ingat Rabb kita dan takut kepadaNya maka itu adalah tanda bertambahnya. Namun, jika kita lalai, lupa dan menyia-nyiakanNya maka itu adalah tanda berkurangnya”. (Kitab Al-Iman karya Ibnu Abi Syaibah)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya iman itu adakalanya usang dalam diri seorang dari kamu seperti usangnya pakaian, maka mintalah kepada Allah agar memperbaharui keimanan dalam hati-hatimu.” (HR. Ath-Thabrani dari Ibnu Umar)

Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu mengajarkan doa agar iman kita bertambah:

” اَلَّلهُمَّ زِدْنَا إِيْمَاناً وَيَقِيْناً وَفِقْهاً ”

Artinya: “Ya Allah, tambahlah untuk kami keimanan, keyakinan dan kefahaman.”

(Berkata Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitabnya “Fathul Bari” 1/48: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Iman dan sanadnya shahih).

Sahabat Abu Ad-Darda Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

“Termasuk diantara kepandaian seorang hamba adalah dia mengetahui apakah imannya bertambah atau berkurang, dan termasuk kepandaian seorang hamba pula adalah dia mengetahui godaan-godaan setan datang dari mana saja kepadanya”.

Sebab Bertambahnya Iman Ada Tujuh

Mempelajari ilmu agama.
Menghadiri majlis-majlis taklim karena majlis seperti ini menambah dan mempertebal keimanan sehingga majlis taklim disebut dengan “Majlis Iman”.

Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, berusaha memahami dan mengamalkannya.
Tidak diragukan lagi bahwa membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, berusaha memahami dan mengamalkannya mempunyai pengaruh besar dalam meningkatkan kualitas keimanan kita karena banyak sekali nasehat dan pelajaran berharga di dalamnya.

Mempelajari sejarah hidup (sirah) Nabi dan Salafush Shaleh.
Melalui kajian sejarah hidup (sirah) Nabi dan Salafush Shaleh kita menjadi tahu berbagai macam sisi kehidupan Beliau dan mereka sehingga kita terdorong untuk menjadikan Beliau dan mereka sebagai suri tauladan.

Bersungguh-sungguh dalam beribadah dan memperbanyak amal sholeh seperti shalat, sedekah, puasa, haji, umrah, berdzikir, beristighfar, berdoa, menyambung tali silaturrahim dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah serta yang lainnya.
Para ulama bersepakat bahwa keimanan pasti bertambah dan meningkat jika kita banyak berbuat ketaatan dan amal sholeh.

Memperhatikan amalan-amalan hati seperti takut, cemas, cinta, berharap, tawakkal dan lainnya terutama membersihkan hati dari kotoran-kotorannya seperti iri, dengki, hasad, sombong, ujub dan lainnyq sehingga hati menjadi bersih.
Amalan hati adalah amalan dahsyat yang sangat besar pengaruhnya untuk meningkatkan keimanan dan menggapai ridha Allah. Cinta Allah, takut kepada Allah, berharap kepada Allah, tawakkal kepada Allah dan yang lainnya adalah inti tauhid. Juga membersihkan hati dari semua yang mengotorinya.

Bergaul dengan orang-orang baik dan menjauhi bergaul dengan orang-orang jahat.
Pergaulan kita sangat berpengaruh terhadap kualitas keimanan kita karena lingkungan akan mewarnai kehidupan dan diri kita.

Memperhatikan orang yang diatas kita dalam urusan agama dan orang yang dibawah kita dalam urusan dunia.
Memperhatikan orang yang diatas kita dalam urusan agama menjadikan kita termotivasi untuk menirunya dan memperhatikan orang yang dibawah kita dalam urusan dunia menjadikan kita selalu bersyukur kepada Allah dan tidak pernah meremehkan semua nikmatNya.

Hamba Allah yang selalu berharap petunjuk, ampunan dan kasih sayangNya, juga selalu berdoa dan berharap mati husnul khotimah.
@AbdullahHadrami/hidayatullah

Menembak Lawan Jadi Kawan

Kunci kemenangan Ieyasu Tokugawa dan Pasukan Timur di Sekigahara pada 21 Oktober 1600 barangkali adalah dengan menembaki pasukan Kobayakawa Hideaki yang berkedudukan kokoh di bukit agar jelas keberpihakannya.

Pemuda ini adalah keponakan kesayangan Toyotomi Hideyoshi. Sikapnya sejak awal selalu gamang.

Ishida Mitsunari, pemimpin de facto Aliansi Barat berulangkali meyakinkan Hideaki bahwa sudah selayaknya dia membela sepupunya, Hideyori, pewaris Sang Taiko. Mitsunari dan para panglimanya bahkan memintanya memangku gelar Kanpaku yang dulu disandang Hideyoshi, sampai kelak Hideyori cukup dewasa untuk memerintah. Kepadanya dianugerahkan pula wilayah-wilayah sekitar Osaka untuk dibawahi secara langsung.

Hideaki tetap belum sepenuh hati bergabung dengan Mitsunari. Dia ingat bagaimana Sang Taiko dulu pernah mempermalukannya dengan membandingkan dirinya dengan kehebatan Mitsunari mengorganisasi pemerintahan.

Bagaimanapun, bersama Pasukan Barat-lah dia berangkat dengan dilepas oleh Mori Terumoto, pemimpin resmi Aliansi Barat yang tetap tinggal di Osaka untuk menjaga Hideyori. Mitsunari memerintahkannya naik ke atas perbukitan sebagai pasukan cadangan dan penjaga formasi jika musuh mendesak.

Pertempuran berkobar dan Pasukan Timur mulai tampak keteteran. Mitsunari memang administrator hebat di balik meja sekaligus perwira lapangan yang buruk. Tapi di Sekigahara, jenderal-jenderal pemberani lagi cemerlang seperti Otani Yoshitsugu dan Ukita Hideie ada di pihaknya.

Terdesaknya Pasukan Timur membuat Mitsunari memerintahkan Hideaki bergerak. Jika kekacauan yang terjadi di barisan Ieyasu karena kesalahan Tada Takatora dan Fukushima Masanori itu dimanfaatkan dengan bergeraknya 15.600 pasukan Hideaki menyerbu dari arah bukit, dapat dipastikan Ieyasu akan kalah.

Tapi Hideaki bimbang. Dia tak menggerakkan tongkat komandonya.

Ieyasu melihat hal ini dan berteriak, “Dasar tak berguna! Kenapa pasukan Hideaki tak menyerang kita?”

“Tampaknya dia bingung Yang Mulia”, sahut seorang jenderalnya. “Masih belum pasti hendak memihak kepada siapa.”

“Bodoh! Dia harus segera berpihak”, seru Ieyasu. Lalu dia memerintahkan pasukan meriam Aliansi Timur mengarahkan tembakan ke bukit tempat markas Hideaki.

“Yang mulia, apa yang Anda lakukan?”, teriak para panglima Timur. “Menembak Hideaki akan membuatnya menyerbu turun menghancurkan barisan kita yang sudah kacau.”

“Biar! Itu lebih baik daripada dia diam seperti orang tolol. Biar kuajari dia bagaimana seharusnya berperang! Tembak! Cepat tembak!”

Maka tembakan-tembakan meriam pasukan Ieyasu menghantam kedudukan Hideaki di atas bukit. Seakan tersadar dari lamunan, Hideaki lalu bangkit dan segera mengomando pasukannya untuk menyerang. Anehnya, Hideaki justru memerintahkan pasukannya menyerang Pasukan Barat pimpinan Mitsnunari yang sedang merangsek ke arah barisan inti Tokugawa. Dengan gegap gempita pasukannya turun dan memangkas serangan Pasukan Barat.

Tak menduga akan diserbu dari atas oleh kawan-kawannya sendiri, pasukan Mitsunari yang nyaris meraih kemenangan itu tiba-tiba tercerai berai. Keputusan Hideaki diikuti oleh beberapa jenderal lain yang sejak awal memang masih setengah hati berada di Barisan Barat. Maka Pasukan Timur punya kesempatan menata ulang barisan dan mereka lalu bergerak maju penuh keyakinan.

Ieyasu menang. Menang dengan menembaki lawan agar berubah menjadi kawan.

Otani Yoshitsugu gugur dengan bangga. Panglima yang menderita penyakit kusta itu sangat menghormati dan menghargai persahabatannya dengan Mitsunari. Sebabnya, dalam suatu jamuan minum teh, sekerat kulit dari wajah berlepra jatuh ke dalam cawan Yoshitsugu. Dirinya ragu hendak meminum, justru Mitsunari yang ada di depannya menukar cangkir itu dengan miliknya dan meminumnya dengan lahap sambil tersenyum.

Sementara Yoshitsugu gugur, Mitsunari, administrator ulung kebanggaan Sang Taiko itu ditangkap dan dieksekusi oleh Ieyasu. Persahabatan mereka dikenang manis. Adapun Hideaki yang khianat, menerima hadiah besar dari Ieyasu, tapi sakit jiwa lalu mati 2 tahun kemudian.

Ieyasu, mendirikan Keshogunan Tokugawa yang akan memerintah Jepang dalam damai namun tertutup rapat hingga sekira dua setengah abad kemudian. Ini patung beliau di Hamamatsu, tempatnya bermarkas selama 17 tahun sebelum membangun kota Edo yang lalu masyhur sebagai Tokyo.

@salimafillah


Menikmati Rizqi

Makanan lezat dapat diburu, hidangan mahal dapat dibeli. Untuk menikmati racikan seorang Chef Bintang Lima Michelin di Kota Paris, kita harus mengajukan reservasi jauh-jauh hari, dengan uang pangkal yang cukup untuk biaya hidup di Yogyakarta selama berbulan tanpa ngeri.


Tapi nikmatnya makan adalah rizqi, Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.


Seorang bapak di Gunung Kidul yang mencangkul sejak pukul 07.00 pagi, di jam 10.30 didatangi sang istri. Sebuah bakul tergendong di punggungnya, dengan isi amat bersahaja. Nasi ketan bertabur parutan kelapa. Sementara cereknya berisi teh panas, wangi, sepet, kenthel, dan legi.


Peluh dan lelah menggenapkan rasa nikmat di tiap suapan sang belahan jiwa. Senyum mereka tak terbeli oleh berapapun harga.


Ranjang paling empuk dapat dibeli. Kamar tidur paling mewah dapat dirancang. Hotel berlayanan bintang tujuh, Burj Al 'Arab di Dubai dapat menyediakan ruang rehat dengan sewa semalam seharga membangun rumah di negeri kita.


Tapi nikmatnya tidur adalah rizqi. Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.


Seorang anak pemulung berbantal kayu, beralas kardus, berselimut koran terlelap di atas gerobak orangtuanya pada suatu malam di Jakarta. Begitu nyenyak sampai susah untuk membangunkannya.


Gaji yang tinggi dapat dikejar dengan karir cemerlang. Uang yang banyak dapat dikumpulkan dengan memeras keringat hingga kering dan membanting tulang hingga linu. Tapi rizqi adalah soal menikmati, Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.


Seorang direktur sebuah BUMN bergaji besar yang duduk di samping saya dalam penerbangan kelas bisnis hanya memandang cemburu ketika sajian saya nikmati. Saya bertanya mengapa hanya air putih saja yang diteguknya, digenggam erat dalam gelas kaca.


Sungguh berat bagi beliau; mau makan manis, kata dokter, "Jangan Pak, diabetesnya." Mau makan gurih, kata dokter, "Jangan Pak, kolesterolnya." Mau makan asin, kata dokter, "Jangan Pak, hipertensinya." Mau makan kacang, kata dokter, "Jangan Pak, asam uratnya."


Ah saya membayangkan, berapakah yang dinikmati manusia dari apa yang dia sangka miliknya dan ditumpuk-tumpuk dan dihitung jumlahnya. Sekira 1000 triliun ada di rekeningnya, lalu esok pagi tiba malaikat maut menunaikan tugasnya, rizqi siapakah itu sebenarnya? Ahli waris atau bahkan musuh bisnis, Allah tak kekurangan cara untuk mengantarnya pada yang sudah dijatahkan tertulis di sisiNya.


Betapa benar Al Mushthafa ﷺ ketika bersabda, "Anak Adam berkata, 'Hartaku! Hartaku!' Padahal apalah hartanya itu selain makanan yang dilahapnya hingga habis, pakaian yang dipakainya hingga usang, dan apa yang dinafkahkannya di jalan Allah lalu dia dapati Allah membalasnya berlipat di akhirat."


Rizqi adalah jaminan. Menjemputnya adalah ujian. Bekerja adalah ibadah kita; 'itqan, ihsan, ikhlas; bukan mencari rizqi, tapi mencari pahala. Sebab kita harus memindahkan kekhawatiran, dari yang dijamin kepada yang belum dijamin. Yakni; akankah pulang kita ke surga?

@salimafillah

Kajian Islam Whatsapp : Renungan Jum'at



kajian islam whatsapp

Masih seputar rezeki, renungan yang bagus untuk hari penuh berkah ini..:


Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat,
Ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah..

Aku melihat hidup teman2ku tak ada duka dan kepedihan,
Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri..

Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian,
Ternyata ia begitu menikmati badai hujan dlm kehidupannya..

Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna,
Ternyata ia hanya berbahagia menjadi apa adanya..

Aku melihat hidup tetanggaku beruntung,
Ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung..

Setiap hari aku belajar memahami dan mengamati setiap hidup orang yang aku temui..

Ternyata aku yang kurang mensyukuri nikmat-Mu..

Bahwa di belahan dunia lain banyak yang belum seberuntung yang aku miliki saat ini....

Dan satu hal yang aku ketahui, bahwa Allahu Rabbi tak pernah mengurangi ketetapan-Nya.
Hanya aku lah yang masih saja mengkufuri nikmat suratan Ilahi...

Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rezeki orang lain..

Mungkin aku tak tahu dimana rezekiku.. Tapi rezekiku tahu dimana diriku..

Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah Ta'ala telah memerintahkannya menuju kepadaku...

Allah Ta'ala menjamin rezekiku, sejak 4 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku..

Amatlah keliru bila bertawakkal rezeki dimaknai dari hasil bekerja..

Karena bekerja adalah ibadah, sedang rezeki itu urusan-Nya..

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati..

Mereka lupa bahwa hakekat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya..

Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh sekehendak-Nya..

Diulang bolak balik 7x shafa dan marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki sang bayi, Ismail a.s.
Ikhtiar itu perbuatan.. Rezeki itu kejutan..

Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rezeki akan ditanya kelak..
"Darimana dan digunakan untuk apa"
Karena rezeki hanyalah "hak pakai", bukan "hak milik"...

Halalnya saja dihisab..dan haramnya diadzab..!!

Maka, aku tidak boleh merasa iri pada rezeki orang lain..

Bila aku iri pada rezeki orang, sudah seharusnya juga iri pada takdir kematiannya....

Astaghfirullah...

kajian islam whatsapp - rejeki tak tertukar

Kajian Islam Whatsapp : "BUGHATS dan GHURAB"


Sebuah perumpamaan yang menarik. Rizki sudah ada yang menanggung. Selengkapnya bisa di baca kisah berikut :

Bismillah

Seorang ulama dari Suriah bercerita tentang do'a yg selalu ia lantunkan. Ia selalu mengucapkan do'a seperti berikut ini...

( ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺯﻗﻨﺎ ﻛﻤﺎ ﺗﺮﺯﻕ ﺍﻟﺒﻐﺎﺙ )

"Ya Allah, berilah aku rizqi sebagaimana Engkau memberi rizqi kepada bughats."

Apakah "bughats" itu...?

Dan bagaimana kisahnya...?

"Bughats" adalah anak burung gagak yg baru menetas. Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yg disebut "bughats". Ketika sudah besar dia menjadi gagak (ghurab).

Apa perbedaan antara bughats & ghurab...?

Telah terbukti secara ilmiah, anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu; Kulitnya berwarna putih.

Di saat induknya menyaksikannya, ia tidak terima itu anaknya, hingga ia tidak mau memberi makan dan minum, lalu mengintainya dari kejauhan saja.

Anak burung kecil malang yang baru keluar dari telur itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang.
Lalu bagaimana ia makan dan minum...?

Allah Yang Maha Kuasa & Maha Pemberi Rizqi yang menanggung rizqinya, karena Dialah yang telah menciptakannya.

Allah menciptakan AROMA tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak yang dapat mengundang datangnya serangga ke sarangnya.
Lalu berbagai macam ulat & serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak, dan ia pun memakannya...
Maa syaa Allah...

Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh..

Ketika itu barulah gagak mengetahui itu adalah anaknya, dan ia pun mau memberi makannya sampai tumbuh dewasa dan bisa terbang mencari makan sendiri.
Secara otomatis aroma yg keluar dari tubuhnya pun hilang & serangga-serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.

Dia-lah Allah Ar Razzaq Yang Maha Pemberi Rizqi...

"....Kamilah yg membagi-bagikan penghidupan diantara mereka dalam kehidupan di dunia ini.."
(QS. Az-Zukhruf : 32)

Rizqimu akan mendatangimu di mana pun kamu berada, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam,

"Sesungguhnya Malaikat Jibril menghembuskan di dalam perasaanku bahwa seseorang tidak akan meninggal sampai sempurna seluruh rizqinya. Ketahuilah, takutlah kepada Allah, dan perindahlah caramu meminta kepada Allah. Jangan sampai keterlambatan rizqii membuatmu mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya tidak akan didapatkan sesuatu yang ada di sisi Allah kecuali dengan mentaatiNya."

Maka sebenarnya kurang pantas bila orang-orang beriman berebut rizqi dan seringkali tidak mengindahkan halal haramnya?
Na'udzubillahi min dzalik...

Ya Allah, Engkau Pemberi dan Penjamin Rizqi, karuniakanlah kepada kami kecukupan rizqi yg halal dan barokah..

Wallaahu ta'ala a'lam.